Hari terus berganti, Ayu hanya bisa mengumpulkan uang seadanya dari hasil kerja sambilan menjadi buruh cuci di perumahan. Berbeda dengan teman yang lainnya. Ya mereka berhasil mengumpulkan uang dengan cepat dan lebih banyak dari Ayu. Bagaimana tidak banyak, mereka mencari uang dengan menghalalkan segala cara. Hari ini Ayu berangkat ke sekolah dengan langkah sedikit lesu. Dia memikirkan bagaimana mengganti sepeda motor milik Excel. Ayu tidak bisa memungkiri, semua pasti sia-sia, dan Excel akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Ya, menginginkan tubuh Ayu. Ciiiitttt………!!!! Suara rem mobil mewah, tiba-tiba berhenti di depa Ayu. Ayu sedikit terjingkat dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. Seorang pria tampan keluar

Ayu sudah sampai di kelasnya, kelas masih terlihat sepi sekali, hanya beberapa siswa yang sudah berada di dalam kelas. Dua sahabat Ayu saja belum terlihat di dalam kelas, apalagi Angel selalu saja kesiangan bangunnya. Ayu membuka buku tugas matematikanya, dia belum sempat mengerjakan tugas yang di berikan oleh Pak Dion, karena semalam sempat ada kejadian yang membuatnya takut di rumah pamannya. Ayu dengan cepat mengerjakan tugas dari matematika nya itu. Beruntung dia berangkat pagi sekali bersama Mbok Sanem. Faisal melihat gadis yang ia sukai dari kejauhan, memang Ayu memilih duduk di pojok agar lebih tenang untuk mengerjakan tugas matematikanya. Ayu sudah selesai mengerjakan tugas

Pagi hari di rumah Daniel, seperti biasa Diana berteriak memanggil Ayu untuk sarapan. Ya, meskipun dia sangat jahat dengan Ayu, dia masih memikirkan Ayu untuk sarapan, makan siang, dan makan malam bersama. Dia sebenarnya sangat menyayangi Ayu, keponakan satu-satunya, karena adik Ayu meninggal bersama kedua orang tuanya dalam kecelakaan. Tak hanya memikirkan Ayu untuk sarapan, dia setiap hari memberikan Ayu uang saku untuk sekolah. Diana memang tidak memiliki anak, entah dari Diana yang memang tak bisa hamil atau dari Daniel, suami Diana. "Ayu…..!" teriak Diana dari ruang makan memanggil Ayu. "Kemana itu bocah, tumben sekali sudah hampir setengah 7 belum keluar kamar, biasanya dia sudah

"Tok….tok….tok…." Ayu mengetuk pintu rumah mbok Sanem dengan membawa tas jinjing juga tas sekolahnya. Belum ada sahutan dari dalam rumah Mbok Sanem. Ayu mencoba mengetuk pintu rumah Mbok Sanem lagi. Namun, tetap saja tak ada sahutan dari mbok Sanem. Terlihat seseorang yang Ayu kenal pulang berjalan membawa dua kantong plastik. Sepertinya orang tersebut baru saja berbelanja. Ya, orang itu adalah Mbok Sanem, beliau membawa dua kantong plastik dari toko sembako yang tak jauh dari rumahnya. Ayu lega sekali bisa bertemu dengan mbok Sanem malam ini. "Mbok, syukurlah…Ayu kira Mbok sudah tidur." Ayu berjalan dengan cepat menghampiri mbok Sanem dan mengambil alih kantong plastik dari tangan Mbok

Malam hari di kediaman Daniel. Ayu segera mencari sertifikat rumah miliknya, karena dia tau Daniel dan Diana belum pulang dari luar kota. Ayu mencari sertifikat rumahnya di dalam kamar Daniel. Dia membuka lemari yang biasa untuk menaruh dokumen penting kantor. Ayu mencari dengan pelan-pelan dan teliti. "Di mana mereka menyimpannya? Atau jangan-jangan mereka sudah menjual rumah papah?"tanya Ayu lirih sambil mengacak-acak lemari dokumen tersebut. "Oh….rupanya ada maling pah di rumah kita,"ucap seorang wanita di ambang pintu kamarnya. Ayu terjingkat, dia begitu kaget paman dan bibinya sudah pulang dari luar kota. Ayu memberanikan diri untuk berbicara pada paman dan bibinya yang kejam itu. "Di mana kalian sembunyikan hak

Ayu dan Angel keluar dari kelasnya, suasana sekolahan sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa siswa yang sedang mengikuti ekstrakurikuler basket. Ayu merasa ada sesuatu yang tertinggal di kelasnya, dia menghentikan langkahnya dan membalikan badannya berjalan ke arah kelasnya lagi. "Bentar deh, njel. Buku tugas Matematika gue ketinggalan, gue ambil dulu, ya. Tunggu sebentar,"ucap Ayu sambil berjalan ke arah kelasnya yang belum terlalu jauh "Gue tunggu di pos satpam, Yu!"seru Angel. "Iya!" jawab Ayu sambil setengah berlari ke kelasnya. Ayu masuk ke dalam kelas, dia mendengar Faisal sedang bernyanyi dan memetik gitarnya. Ayu akui, suara Faisal memang bagus, wajah juga gak jelek-jelek amat. Namun, bagi Ayu dia hanya

Seusai jam kosong selesai, Ayu segera kembali ke kelas, karena ini adalah jam pelajaran Fisika. Pelajaran yang Ayu tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Dia masuk ke dalam kelasnya dan duduk di samping Angel. Dia membuka LKS dan buku tugasnya serta buku catatannya. Ayu sudah mulai membaca rangkuman materi yang mungkin akan di ajarkan Bu Anjani siang ini. Anjani, guru Fisika Ayu yang sangat menyayangi Ayu karena Ayu siswa paling pandai di kelasnya. Bu Anjani memasuki kelas 3 IPA 1, dan dia mulai membuka mata pelajarannya. Ayu dengan sangat fokus mengikuti pelajaran Fisika. Bu Anjani memeriksa tugas harian milik siswanya. Saat memeriksa buku tugas Ayu, senyuman

(P.O.V Ayu Tania) Seharusnya, aku tidak memilih tinggal di kota ini, kota yang penuh luka untuk hidupku. Aku harus tinggal dengan seseorang yang pura-pura baik di hadapanku, dan yang lebih menyedihkan lagi, perlakuan tidak senonoh sering di lakukan oleh pamanku sendiri. Beruntungnya aku masih bisa menghindar dari semua itu. Dan sampai detik ini, aku masih menjaga mahkotaku yang sangat berharga ini. Sinar mentari pagi menyusup ke dalam ruangan yang sangat kecil melalui celah jendela yang tirainya sedikit terbuka. Kuregangkan otot-otot ku yang masih kaku di atas tempat tidurku. Aku beranjak keluar kamarku untuk membuat kopi di pagi hari. Duduk di teras belakang rumah dengan memandang

BLURB Ketika keperawanan diragukan oleh kaum pria pada zaman sekarang. Ayu Tania, gadis berusia 17 tahun, dia berhasil meyakinkan seorang pria yang akan menidurinya bahwa dirinya masih Virgin, lantaran dia sangat membutuhkan uang. Demi persahabatannya, dia rela menjual keperawanannya pada pria tersebut. Hanya karena tidak sengaja merobohkan sepeda motor sport yang mahal, dia dan dua sahabatnya harus membayar ganti rugi pada pemilik sepeda motor tersebut, bahkan sang pemilik meminta Ayu dan sahabatnya mengganti motornya dengan yang baru. Excel Pratama, CEO muda berusia 22tahun. Dia juga pemilik sebuah bar yang terkenal di kotanya, hidupnya yang penuh dengan foya-foya, bergonta-ganti pasangan, dan aktif di dunia malam. Excel, Pria

Walau Wildan tidak pulang, Sekar tidak kaget. Paling-paling tidur di kontrakan Lilik. Kemarin Sekar sudah menyelidiki keberadaan Lilik. Rumah yang dimaksud Nunung. Secara kebetulan Lilik keluar rumah. Bahkan Sekar bisa ngobrol dengan Lilik, pura-pura tanya alamat. Lilik selalu menjilat bibir setelah berbicara. Menurut eyang putri, perempuan yang setiap habis bicara menjilat bibirnya, adalah perempuan genit. Berarti Lilik perempuan genit. Masuk akal. Kalau tidak genit, tak mungkin begitu gampangnya terpikat Wildan. Tapi sudahlah