Ayu masuk ke dalam kelasnya dan duduk di bangkunya. Dia menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangannya di meja. Rasanya hidup Ayu akan segera berakhir. Ayu tidak tahu harus bagaimana lagi, untuk mendapatkan uang itu. Walaupun teman-temannya membantu untuk mencari uang, dia meragukannya. "Aku tidak yakin, mereka akan mendapatkannya. Mereka mendapatkan itu dengan rela menjual dirinya, sedangkan aku? Aku hanya diam, dan hasilku tak sebanding dengan mereka," gumam Ayu. Suasana kelas semakin ramai, apalagi sudah ada Angel dan Vanya si ratu heboh di kelas. Mereka masuk dan mendekati Ayu yang sedang duduk termenung di bangkunya. Vanya duduk di samping Ayu dan merangkul sahabatnya itu, begitu juga

(Monalisa Boutique) Jam 9 pagi aku sudah sampai di butikku. Aku turun dari mobil dan masuk ke dalam butik. "Pagi, Mba Lisa," sapa Indira. "Pagi Ra." Aku langsung bergegas masuk ke ruanganku di atas. Aku duduk di kursi dan mulai membuat desain. Aku masih mengingat kata kata ayahku. "Menikah" satu kata yang masih jelas di telingaku. Siang ini, tante Marta datang dengan anaknya yang bernama Lyra. Lyra sebentar lagi mau menikah. Dia juga akan datang bersama calon suaminya ke butikku untuk fitting gaun pengantin yang kemarin dipesannya. "Gaun ini cantik sekali. Ah… Kenapa aku memikirkan kapan bisa memakai gaun ini?" gumamku sambil menata dan melihat gaun milik Lyra. Aku keluar

Aku Monalisa, biasa di panggil Lisa. Aku seorang desainer dan memiliki butik sendiri. Semua teman ku menilai aku gagal dalam urusan jodoh. Iya umurku sudah 32 tahun Tepat di bulan ini. Aku tak peduli dengan kata-kata mereka. Karena aku menikmati hidupku. Aku mempunyai beberapa butik dan kafe di kotaku dan di luar kota. Aku belajar itu semua karena ayahku. Ayahku bermana Rafli. Dia pria yang hebat. Mampu mendirikan usahanya sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya. Padahal keluarga ayah dan almarhumah ibu terbilang cukup kaya. Namun, karena hubungan ayah dan ibu ditentang oleh kedua keluarga mereka akhirnya mereka menikah tanpa restu dari keluarga masing-masing dan

Hari terus berganti, Ayu hanya bisa mengumpulkan uang seadanya dari hasil kerja sambilan menjadi buruh cuci di perumahan. Berbeda dengan teman yang lainnya. Ya mereka berhasil mengumpulkan uang dengan cepat dan lebih banyak dari Ayu. Bagaimana tidak banyak, mereka mencari uang dengan menghalalkan segala cara. Hari ini Ayu berangkat ke sekolah dengan langkah sedikit lesu. Dia memikirkan bagaimana mengganti sepeda motor milik Excel. Ayu tidak bisa memungkiri, semua pasti sia-sia, dan Excel akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Ya, menginginkan tubuh Ayu. Ciiiitttt………!!!! Suara rem mobil mewah, tiba-tiba berhenti di depa Ayu. Ayu sedikit terjingkat dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. Seorang pria tampan keluar

Ayu merebahkan diri di atas temaptl tidur, memikirkan apa yang akan terjadi besok dan hari selanjutnya. Dua ratus lima puluh juta, bukan uang yang banyak bagi Ayu, itu saat dulu keluarganya masih lengkap dan perusahaan ayahnya berjalan lancar. Sekarang uang Lima Ribu saja bagi Ayu sangat berharga sekali, setelah semua aset perusahaan tidak tau ke mana, dan sertifikat rumahnya di kuasai oleh bibi dan pamannya. "Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" lirih Ayu sambil menyeka bulir air mata yang jatuh membasahi pipi. Ayu tertidur karena dia lelah menangis dan mengeluarkan banyak air mata. Keesokan harinya, Ayu terbangun pukul 6 pagi. Ya, hari ini adalah hari Minggu.

Ayu sudah sampai di kelasnya, kelas masih terlihat sepi sekali, hanya beberapa siswa yang sudah berada di dalam kelas. Dua sahabat Ayu saja belum terlihat di dalam kelas, apalagi Angel selalu saja kesiangan bangunnya. Ayu membuka buku tugas matematikanya, dia belum sempat mengerjakan tugas yang di berikan oleh Pak Dion, karena semalam sempat ada kejadian yang membuatnya takut di rumah pamannya. Ayu dengan cepat mengerjakan tugas dari matematika nya itu. Beruntung dia berangkat pagi sekali bersama Mbok Sanem. Faisal melihat gadis yang ia sukai dari kejauhan, memang Ayu memilih duduk di pojok agar lebih tenang untuk mengerjakan tugas matematikanya. Ayu sudah selesai mengerjakan tugas

Pagi hari di rumah Daniel, seperti biasa Diana berteriak memanggil Ayu untuk sarapan. Ya, meskipun dia sangat jahat dengan Ayu, dia masih memikirkan Ayu untuk sarapan, makan siang, dan makan malam bersama. Dia sebenarnya sangat menyayangi Ayu, keponakan satu-satunya, karena adik Ayu meninggal bersama kedua orang tuanya dalam kecelakaan. Tak hanya memikirkan Ayu untuk sarapan, dia setiap hari memberikan Ayu uang saku untuk sekolah. Diana memang tidak memiliki anak, entah dari Diana yang memang tak bisa hamil atau dari Daniel, suami Diana. "Ayu…..!" teriak Diana dari ruang makan memanggil Ayu. "Kemana itu bocah, tumben sekali sudah hampir setengah 7 belum keluar kamar, biasanya dia sudah

"Tok….tok….tok…." Ayu mengetuk pintu rumah mbok Sanem dengan membawa tas jinjing juga tas sekolahnya. Belum ada sahutan dari dalam rumah Mbok Sanem. Ayu mencoba mengetuk pintu rumah Mbok Sanem lagi. Namun, tetap saja tak ada sahutan dari mbok Sanem. Terlihat seseorang yang Ayu kenal pulang berjalan membawa dua kantong plastik. Sepertinya orang tersebut baru saja berbelanja. Ya, orang itu adalah Mbok Sanem, beliau membawa dua kantong plastik dari toko sembako yang tak jauh dari rumahnya. Ayu lega sekali bisa bertemu dengan mbok Sanem malam ini. "Mbok, syukurlah…Ayu kira Mbok sudah tidur." Ayu berjalan dengan cepat menghampiri mbok Sanem dan mengambil alih kantong plastik dari tangan Mbok

Malam hari di kediaman Daniel. Ayu segera mencari sertifikat rumah miliknya, karena dia tau Daniel dan Diana belum pulang dari luar kota. Ayu mencari sertifikat rumahnya di dalam kamar Daniel. Dia membuka lemari yang biasa untuk menaruh dokumen penting kantor. Ayu mencari dengan pelan-pelan dan teliti. "Di mana mereka menyimpannya? Atau jangan-jangan mereka sudah menjual rumah papah?"tanya Ayu lirih sambil mengacak-acak lemari dokumen tersebut. "Oh….rupanya ada maling pah di rumah kita,"ucap seorang wanita di ambang pintu kamarnya. Ayu terjingkat, dia begitu kaget paman dan bibinya sudah pulang dari luar kota. Ayu memberanikan diri untuk berbicara pada paman dan bibinya yang kejam itu. "Di mana kalian sembunyikan hak

Ayu dan Angel keluar dari kelasnya, suasana sekolahan sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa siswa yang sedang mengikuti ekstrakurikuler basket. Ayu merasa ada sesuatu yang tertinggal di kelasnya, dia menghentikan langkahnya dan membalikan badannya berjalan ke arah kelasnya lagi. "Bentar deh, njel. Buku tugas Matematika gue ketinggalan, gue ambil dulu, ya. Tunggu sebentar,"ucap Ayu sambil berjalan ke arah kelasnya yang belum terlalu jauh "Gue tunggu di pos satpam, Yu!"seru Angel. "Iya!" jawab Ayu sambil setengah berlari ke kelasnya. Ayu masuk ke dalam kelas, dia mendengar Faisal sedang bernyanyi dan memetik gitarnya. Ayu akui, suara Faisal memang bagus, wajah juga gak jelek-jelek amat. Namun, bagi Ayu dia hanya