Salah satu misteri dalam hidup ini adalah orang-orang yang kita temui. Kadang aku berpikir kenapa harus bertemu Adnan yang tak cuma nyebelin tapi ngomongnya juga ngga jelas karena terlalu cepat berujar, atau Ratih yang sok cantik dan sok intelek. Semesta ini bukan hanya tentang gunung-gunung atau samudra, namun juga tentang orang-orang dengan jiwa yang bersemayam di setiap tubuh fisiknya. Kadang-kadang dalam renungan di pagi buta aku memikirkan semuanya. Melihat bintang di langit dan bertanya apakah memang disana ada jin atau malaikat. Oh! Dan Helva menarik hatiku. Pandangan pertama yang tertuju di mulutnya yang mungil kemudian menyusuri pesonanya, tatapan matanya menggoda tapi menyelipkan kesedihan. Sikap pasrah yang

Pengantar :) Ini adalah kisah nyata seorang teman sejawat yang indah, terjadi di masa lampau dan hingga kini. Percayalah! - Siang itu sudah terlalu lama. Sore sebentar lagi akan menyambangi dunia waktu yang penuh kejar-kejaran. Di sela-sela daun jati, menyusup cahaya matahari bersilauan, berpendar dengan kaca spion motorku. Aku menghela napas. Sebentar memandang kaca spion sebelah kanan. Sepi. Tidak ada mobil di belakang, pun motor. Sudah cukup jauh dari peradaban, batinku. Sepanjang jalan adalah aspal berwarna keabu-abuan yang bertepikan trotoar hijau, rumput dan ilalang. Selebihnya hutan jati dengan barisan pohon-pohonnya yang cukup rapi. Aku menepi. "Kenapa berhenti, mas?" tanya Helva, berkerut dahi. "Pengen kencing!" jawabku. "Huh!" Helva mencubitku yang langsung terbirit-birit mencari