Puisi ini adalah sebuah lamunan spiritual seorang hamba sahaya yang sedang singgah dan menghiasi drama kehidupan. Kala rasa tidak berdaya dan perasaan tercerahkan menjadi satu, inila yang muncul. Puisi ini apakah memang puisi? Aku yakin ini memang puisi Noktah Semesta Apa yang kita persembahkan Hanya sedetik dari ribuan tahun perjalanan Cuma setetes dari samudra yang terlalu luas untuk kau ukur Jadi persembahan macam apa yang kita anggap layak untuk Tuhan

(P.O.V Ayu Tania) Seharusnya, aku tidak memilih tinggal di kota ini, kota yang penuh luka untuk hidupku. Aku harus tinggal dengan seseorang yang pura-pura baik di hadapanku, dan yang lebih menyedihkan lagi, perlakuan tidak senonoh sering di lakukan oleh pamanku sendiri. Beruntungnya aku masih bisa menghindar dari semua itu. Dan sampai detik ini, aku masih menjaga mahkotaku yang sangat berharga ini. Sinar mentari pagi menyusup ke dalam ruangan yang sangat kecil melalui celah jendela yang tirainya sedikit terbuka. Kuregangkan otot-otot ku yang masih kaku di atas tempat tidurku. Aku beranjak keluar kamarku untuk membuat kopi di pagi hari. Duduk di teras belakang rumah dengan memandang

BLURB Ketika keperawanan diragukan oleh kaum pria pada zaman sekarang. Ayu Tania, gadis berusia 17 tahun, dia berhasil meyakinkan seorang pria yang akan menidurinya bahwa dirinya masih Virgin, lantaran dia sangat membutuhkan uang. Demi persahabatannya, dia rela menjual keperawanannya pada pria tersebut. Hanya karena tidak sengaja merobohkan sepeda motor sport yang mahal, dia dan dua sahabatnya harus membayar ganti rugi pada pemilik sepeda motor tersebut, bahkan sang pemilik meminta Ayu dan sahabatnya mengganti motornya dengan yang baru. Excel Pratama, CEO muda berusia 22tahun. Dia juga pemilik sebuah bar yang terkenal di kotanya, hidupnya yang penuh dengan foya-foya, bergonta-ganti pasangan, dan aktif di dunia malam. Excel, Pria

Walau Wildan tidak pulang, Sekar tidak kaget. Paling-paling tidur di kontrakan Lilik. Kemarin Sekar sudah menyelidiki keberadaan Lilik. Rumah yang dimaksud Nunung. Secara kebetulan Lilik keluar rumah. Bahkan Sekar bisa ngobrol dengan Lilik, pura-pura tanya alamat. Lilik selalu menjilat bibir setelah berbicara. Menurut eyang putri, perempuan yang setiap habis bicara menjilat bibirnya, adalah perempuan genit. Berarti Lilik perempuan genit. Masuk akal. Kalau tidak genit, tak mungkin begitu gampangnya terpikat Wildan. Tapi sudahlah

Setelah Nunung pulang, Sekar melanjutkan kegiatannya menyiram bunganya. Dia tersenyum-senyum sendiri. Teringat Galang. Galang yang telah membelikan semua tanaman hias tersebut. Galang yang paham betul kesukaannya. Hobinya menanam bunga. Sekar mengamati bunga-bunga itu. Ungu, kuning, merah, putih, orange. Yang biru kok belum ada, ya? Biru langit. Tanya Sekar dalam hati. Warna kesukaanya. Biru langit. Teringat warna biru langit, Sekar juga teringat gamis sarimbit yang dibelikan Galang waktu itu. Juga ucapan Galang, yang mengatakannya suatu saat nanti mereka akan memakai sarimbit itu. Mengenakan sarimbit itu? Dalam rangka apa? Kapan? Kenapa Galang begitu yakin dengan hal itu? Begitu banyak tanda tanya yang berkecamuk di benak Sekar. Tanda-tanya yang hanya terjawab seiring berjalannya waktu. Terdengar HP berbunyi. Tanda

Tentu saja tidak! Rasa sakit hati Sekar selama ini telah mengikis habis rasa cintanya terhadap Wildan. Hari ini Sekar tidak masak. Untuk sarapan, ia beli di warung sebelah. Tiga bungkus dan beberapa gorengan. Adit yang sudah selesai mandi disuruh untuk sarapan. “Adit! ini sarapan dulu. Ini susunya. Kamu suka susu coklat, kan?” Kata Sekar sambil mendekatkan segelas susu coklat ke piring Adit. “Iya, bu. Makasih.” Jawab Adit sambil tersenyum. Wildan yang sudah mengenakan baju batik berjalan mendekati mereka. Tatapannya tertuju pada nasi bungkus yang cuma ada dua. “Sarapan buat kamu, mana?” Tanya Wildan pada Sekar. “Ini. Satu buatku. Satu buat ibu.”Jawab Sekar dengan santainya. Sekar hanya tersenyum tipis sambil menatap Adit

“Ayah mau kemana?” Tanya Adit bingung. “Ayah ada tugas di luar kota. Jadi akan menginap disana.” Buru-buru Sekar menjawab pertanyaan anak semata wayangnya. “Betul! Mau naik pangkat. Jadi kuliah lagi.” Timpal Laras. “Oh, begitu? Selamat ya, Ayah!” Kata Adit sambil tersenyum ceria. Wildan hanya mengangguk pelan sambil berjalan keluar. Adit lari ke toko untuk mengambil cemilan. Akhirnya Wildan pergi disertai tatapan hampa Sekar. “Kamu bisa melaporkan kelakuan Wildan. Biar dia dipecat.” Kata Laras geram. “Nggak usah, Bu. Kasihan. Nanti dia nggak punya pekerjaan.” Jawab Sekar. “Kamu masih kasihan padanya setelah apa yang dia lakukan padamu?” Tanya Laras. “Seandainya dia dipecat, apa untungnya buat saya, Bu. Jadi buat apa kulakukan?” Laras geleng-geleng kepala. -- Wildan bermaksud

Galang ingin memastikan, apakah Sekar mau bercerai dengan suaminya atau tidak. Itulah tujuan utama Galang mengajak Sekar makan-makan. Tapi, ternyata Sekar tidak berminat membicarakan itu. Mau tidak mau Galang harus mengikuti keinginan Sekar. Paling tidak kalau sudah tahu Sekar akan bercerai, Galang tinggal memastikan apakah Sekar bersedia bila menjadi istrinya. Ah! Belum juga dapat kepastian, sesal Galang. Galang memperhatikan Sekar yang sedang makan. Merasa diperhatikan, Sekar jadi salah tingkah, hampir tersedak. “Pelan-pelan Sekar.” Kata Galang lembut. “Aku pelan pelan kok. Kamunya aja yang nggak ikhlas.” Kata Sekar dengan senyum mengoda. “Eeee! Coba bilang sekali lagi!” Kata Galang sambil menarik hidung Sekar. “Idiilah!” Sekar menarik wajahnya menjauh dari Galang. Galang hanya tertawa

Udara terasa panas. Langitpun cerah. Debu-debu berterbangan, terhembus angin mengajak serta daun-daun kering yang gugur dari pohonnya. Sekar yang sedang menjaga toko mengamati plastik-plastik kecil beserta dedaunan tersebut seakan berkejaran. Sebenarnya rasa kantuk menghinggapi dirinya. Namun Sekar bertahan tidak akan tidur siang. Mau jaga toko, berjaga-jaga ada pembeli. Tiba-tiba Niken dan Cindi datang. Mereka mengajak Sekar untuk menengok Lukman yang di rumah sakit karena kecelakaan. Setelah pamit pada Laras dan Adit. Mereka berangkat. Sekar dibonceng Niken. Sampai di perempatan kota, dekat lampu lalu lintas, mereka sudah ditunggu Galang dengan mobilnya. Rumah sakitnya cukup jauh. Beda kabupaten. Niken dan Cindy segera menitipkan sepeda motor dan naik