(Flashback On) Di sebuah Sekolah Menengah Atas. Pada saat jam istirahat ke dua, seorang siswa laki-laki menitipkan secarik surat untuk siswa perempuan yang sedang duduk membaca buku di taman sekolah. Hendrik menulis surat untuk lisa dan memberikannya pada lisa lewat siswa lain. Lisa menerima secarik surat itu dan melihat ke arah Hendrik, dengan senyum yang terurai di wajahnya. "Hai Lisa, pulang sekolah mau tidak ke taman bersamaku?" Lisa tersenyum dan melirik ke arah hendrik. Dia menganggukkan kepalanya dan menulis balasan surat Hendrik lalu Memberikannya pada teman yang tadi mengantar surat Hendrik. "Iya, aku mau, maaf kemarin aku langsung pulang." Hendrik membaca dan membalas lagi surat Lisa lalu menyuruh

Ayu masuk ke dalam kelasnya dan duduk di bangkunya. Dia menenggelamkan wajahnya di atas lipatan tangannya di meja. Rasanya hidup Ayu akan segera berakhir. Ayu tidak tahu harus bagaimana lagi, untuk mendapatkan uang itu. Walaupun teman-temannya membantu untuk mencari uang, dia meragukannya. "Aku tidak yakin, mereka akan mendapatkannya. Mereka mendapatkan itu dengan rela menjual dirinya, sedangkan aku? Aku hanya diam, dan hasilku tak sebanding dengan mereka," gumam Ayu. Suasana kelas semakin ramai, apalagi sudah ada Angel dan Vanya si ratu heboh di kelas. Mereka masuk dan mendekati Ayu yang sedang duduk termenung di bangkunya. Vanya duduk di samping Ayu dan merangkul sahabatnya itu, begitu juga

(Didepan Monalisa Boutique) Sebuah mobil baru masuk di depan butik lisa. Rafli, ayah Lisa turun dari mobil. Dia berniat mengajak anaknya makan siang dan sekalian mengecek restorannya. Saat turun dari mobilnya, Ayah Rafli melihat mobil yang tak asing baginya. Iya mobil Arif sahabatnya. Dan mobil sahabatnya itu parkir di sampingnya. Benar dugaan Ayah Rafli itu adalah mobil Arif sahabatnya.Arif terlihat turun dengan seorang laki laki muda. "Arif? mau apa dia datang ke butik anak ku. Dan siapa pemuda di sampingnya," gumam Rafli. "Arif," sapa Rafli. "Hai, Rafli, tak terduga kita bisa bertemu disini. Kamu mau apa kesini Raf?" tanya Arif. "Mau menemui pemilik butik ini," jawba Rafli. "Pemilik butik

(Monalisa Boutique) Jam 9 pagi aku sudah sampai di butikku. Aku turun dari mobil dan masuk ke dalam butik. "Pagi, Mba Lisa," sapa Indira. "Pagi Ra." Aku langsung bergegas masuk ke ruanganku di atas. Aku duduk di kursi dan mulai membuat desain. Aku masih mengingat kata kata ayahku. "Menikah" satu kata yang masih jelas di telingaku. Siang ini, tante Marta datang dengan anaknya yang bernama Lyra. Lyra sebentar lagi mau menikah. Dia juga akan datang bersama calon suaminya ke butikku untuk fitting gaun pengantin yang kemarin dipesannya. "Gaun ini cantik sekali. Ah… Kenapa aku memikirkan kapan bisa memakai gaun ini?" gumamku sambil menata dan melihat gaun milik Lyra. Aku keluar

Aku Monalisa, biasa di panggil Lisa. Aku seorang desainer dan memiliki butik sendiri. Semua teman ku menilai aku gagal dalam urusan jodoh. Iya umurku sudah 32 tahun Tepat di bulan ini. Aku tak peduli dengan kata-kata mereka. Karena aku menikmati hidupku. Aku mempunyai beberapa butik dan kafe di kotaku dan di luar kota. Aku belajar itu semua karena ayahku. Ayahku bermana Rafli. Dia pria yang hebat. Mampu mendirikan usahanya sendiri tanpa bantuan dari orang tuanya. Padahal keluarga ayah dan almarhumah ibu terbilang cukup kaya. Namun, karena hubungan ayah dan ibu ditentang oleh kedua keluarga mereka akhirnya mereka menikah tanpa restu dari keluarga masing-masing dan

Hari terus berganti, Ayu hanya bisa mengumpulkan uang seadanya dari hasil kerja sambilan menjadi buruh cuci di perumahan. Berbeda dengan teman yang lainnya. Ya mereka berhasil mengumpulkan uang dengan cepat dan lebih banyak dari Ayu. Bagaimana tidak banyak, mereka mencari uang dengan menghalalkan segala cara. Hari ini Ayu berangkat ke sekolah dengan langkah sedikit lesu. Dia memikirkan bagaimana mengganti sepeda motor milik Excel. Ayu tidak bisa memungkiri, semua pasti sia-sia, dan Excel akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Ya, menginginkan tubuh Ayu. Ciiiitttt………!!!! Suara rem mobil mewah, tiba-tiba berhenti di depa Ayu. Ayu sedikit terjingkat dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. Seorang pria tampan keluar

Ayu merebahkan diri di atas temaptl tidur, memikirkan apa yang akan terjadi besok dan hari selanjutnya. Dua ratus lima puluh juta, bukan uang yang banyak bagi Ayu, itu saat dulu keluarganya masih lengkap dan perusahaan ayahnya berjalan lancar. Sekarang uang Lima Ribu saja bagi Ayu sangat berharga sekali, setelah semua aset perusahaan tidak tau ke mana, dan sertifikat rumahnya di kuasai oleh bibi dan pamannya. "Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" lirih Ayu sambil menyeka bulir air mata yang jatuh membasahi pipi. Ayu tertidur karena dia lelah menangis dan mengeluarkan banyak air mata. Keesokan harinya, Ayu terbangun pukul 6 pagi. Ya, hari ini adalah hari Minggu.

Seperti yang dibicrakan teman-teman Ayu kemarin, mereka akan pergi ke bar malam Minggu. Dan, ini adalah malam Minggu, yang katanya malam yang panjang untuk para muda mudi yang menikmati malam minggu bersama teman atau kekasihnya. Ayu sudah bersiap-siap untuk ke rumah Aldo. Dia berangkat dengan Angel menggunakan taxi untuk ke rumah Aldo. Faisal juga sudah berada di rumah Aldo dari tadi, menunggu Ayu dan Angel datang. Ayu harus membantu Mbok Sanem beres-beres terlebih dahulu, makanya agak lama untuk ke ruang Aldo. "Sorry guys, kita telat," ucap Angel. "Gak apa-apa, sudah , kan? Kita berlima saja?"tanya Faisal. "Iya, kita berlima lah, mau sama siapa lagi, Sal?"tanya Vanya. "Ya sudah,

Ayu menemui Dion di perpustakaan. Ayu tidak tau, apa yang akan di bicarakan Dion di perpustakaan. Ayu menemuianya saat jam istirahat. Dia melihat Dion guru matematikanya sudah berada di dalam perpustakaan. Ayu mendekatinya,tapi saatvakan berjalan ke arah Dion, Bu Anjani guru fisika Ayu memanggilnya. "Ayu," panggil Bu Anjani. Ayu menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. "Iya, Bu," jawab Ayu. "Ehmm…syukurlah ketemu kamu di sini. Bisa bicara sebentar?" tanya Anjani. "Emm…bisa, Bu, tapi saya akan menemui Pak Dion dulu, Bu. Soalnya Pak Dion tadi menyuruh Ayu menemuinya, untuk membahas olimpiade," ucap Ayu. "Oh…kamu manemui, Pak Dion?" "Iya, Bu," jawab Ayu. "Ya sudah, temuai dulu," ucap Anjani dengan nada yang berat. Anjani tau,

Ayu sudah sampai di kelasnya, kelas masih terlihat sepi sekali, hanya beberapa siswa yang sudah berada di dalam kelas. Dua sahabat Ayu saja belum terlihat di dalam kelas, apalagi Angel selalu saja kesiangan bangunnya. Ayu membuka buku tugas matematikanya, dia belum sempat mengerjakan tugas yang di berikan oleh Pak Dion, karena semalam sempat ada kejadian yang membuatnya takut di rumah pamannya. Ayu dengan cepat mengerjakan tugas dari matematika nya itu. Beruntung dia berangkat pagi sekali bersama Mbok Sanem. Faisal melihat gadis yang ia sukai dari kejauhan, memang Ayu memilih duduk di pojok agar lebih tenang untuk mengerjakan tugas matematikanya. Ayu sudah selesai mengerjakan tugas