Cerita Bersambung
Cerita Bersambung

Chapter 9 : Terjebak di Ketiak Casanova

Udara terasa panas. Langitpun cerah. Debu-debu berterbangan, terhembus angin mengajak serta daun-daun kering yang gugur dari pohonnya. Sekar yang sedang menjaga toko mengamati plastik-plastik kecil beserta dedaunan tersebut seakan berkejaran. Sebenarnya rasa kantuk menghinggapi dirinya. Namun Sekar bertahan tidak akan tidur siang. Mau jaga toko, berjaga-jaga ada pembeli.

Tiba-tiba Niken dan Cindi datang. Mereka mengajak Sekar untuk menengok Lukman yang di rumah sakit karena kecelakaan. Setelah pamit pada Laras dan Adit. Mereka berangkat. Sekar dibonceng Niken.

Sampai di perempatan kota, dekat lampu lalu lintas, mereka sudah ditunggu Galang dengan mobilnya. Rumah sakitnya cukup jauh. Beda kabupaten. Niken dan Cindy segera menitipkan sepeda motor dan naik mobil Galang. Seperti biasa. Niken dan Cindi berebut duduk di belakang dan Sekar disuruh duduk di depan, bersebelahan dengan Galang.

“Apa kabar Sekar?” Tanya Galang dengan mata berbinar-binar.
“Allhamdulillah! Baik.” Hati Sekar bergoncang cepat namun dia berusaha menutupinya.

Bagi Galang dapat duduk bersebelahan dengan Sekar, memberikan kebahagiaan tersendiri. Dia selalu menantikan momen momen seperti ini. Tapi kapan dan bagaimana caranya sangat sulit. Sekar tidak akan mau bila diajak bertemu empat mata. Katanya, kalau dua orang berbeda jenis kelamin lalu bertemu cuma empat mata seperti orang selingkuh saja.

“Sudah semua? Kita jalan, ya.” Tanya Galang.
“Oke.” Jawab Niken dan Cindy bareng.

Sekar hanya tersenyum sambil menatap Galang. Secara tidak sengaja Galang juga sedang menatap dirinya. Sejenak mereka saling tatap dan akhirnya saling melempar senyum.

“Sekar, kemarin Rudi menceritakan semuanya.” Kata Niken
“Cerita tentang apa?” Sekar gugup.
Yach!  Semua yang dia tahu.”Kata Niken sambil menghela napas panjang.
“Kenapa, Niken?” Tanya Galang.
“Aku nggak ikhlas, sahabatku diperlakukan begitu sama suaminya.” Niken menghela napas lagi.
“Diperlakukan apa? Aku baik-baik saja.”Jawab Sekar buru-buru.
“Kamu nggak usah menutupi Sekar. Aku udah tahu semuanya. Dan kupikir ini harus dicari solusinya. Jangan dibiarkan berlarut-larut.” Kata Niken.

Sekar hanya memejamkan mata sambil bersandar ke jok.

“Ada apa Sekar?” Kata Galang sambil mengusap kepala Sekar.
“Nggak apa-apa.” Jawab Sekar sambil membuka matanya berlahan.

Cindy mencoba mencairkan suasana. Dia menunjukan amplop berisi uang kas, yang akan diberikan pada Lukman. Semuanya setuju. Selama dalam perjalanan dan di rumah sakit, Sekar lebih banyak diam. Semua itu tidak terlepas dari pengamatan Galang. Galang masih mencintai Sekar, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.

BACA juga :  Baca Novel Online : Hendrik & Lisa Bab 2

Saat pulang, mereka bertiga mengungkapkan rencana Galang yang ingin bicara empat mata dengan Sekar. Sekar mencoba menolak, namun alasan-alasan mereka lebih kuat. Lagipula tampaknya tidak ada alasan bagi Sekar untuk menolak keinginan Galang. Keinginan yang sederhana. Hanya bicara empat mata di tempat terbuka.

Di perempatan mobil berhenti. Cindy dan Niken turun.

“Terima kasih ya, Galang.” Kata Cindy, turun dari mobil.
“Sekar, kami turun dulu. Nanti kamu diantar Galang, ya.” Kata Niken juga turun dari mobil.
Lha, nggak bisa dong. Tadi yang datang jemput aku kan kamu. Masa pulangnya aku diantar Galang. Gimana pendapat ibuku?” Kata Sekar beranjak mau turun dari mobil juga.
“Oke! Habis ini, aku akan mengantarmu ke rumah Niken, biar Niken yang mengantarmu pulang ke rumah.” Kata Galang.

Sekar menghentikan gerakan tangannya yang mau membuka pintu mobil. Niken dan Cindy berdiri dekat pintu mobil, disisi Sekar.

“Oke, Sekar. Kami pulang dulu. Kalian berdua baik-baik, ya. Jangan berantem! ”Kata Niken sambil tersenyum nakal.
“Iya, Sekar. Kamu pasti akan baik-baik saja sama Galang. Jangan khawatir!” Kata Cindy.

Sekar hanya diam sambil melirik Galang.

“Tentu saja!” Jawab Galang sambil tersenyum manis.
“Ternyata semua ini sudah direncanakan kalian bertiga, ya?” Tanya Sekar.
“Betul sekali!” Jawab Niken dan Cindy kompak.
“Bukan rencana jahat, kan?” Kata Galang sambil tersenyum lagi.
“Iya. Jangan mikir yang nggak-nggak, deh!” Kata Niken lagi.
Akhirnya Sekar bersedia untuk bicara empat mata dengan Galang. Entah apa yang akan dibicarakan Galang.

Perlahan, Galang menjalankan mobilnya.

Sebenarnya hati Sekar merasa nyaman bila ada di sisi Galang. Rasanya ingin selalu dekat dengannya. Tapi Sekar sadar, itu tak mungkin. Tak mungkin kalau selalu ingin berdekatan dengan Galang. Galang sudah beristri. Seperti halnya dirinya yang juga sudah bersuami.

Kadang Sekar ingin mengabaikan segalanya. Mengabaikan kalau dirinya istri orang. Mengabaikan kalau apa yang dia lakukan itu kurang pantas. Yang terpenting, berada didekat orang yang membuatnya nyaman.

Tapi apakah itu pantas?

Kok bengong?” Tanya Galang.
“Nggak! Aku nggak bengong kok.” Kilah Sekar agak gugup.

Galang hanya tersenyun.

“Sebenarnya kamu mau mengajakku kemana dan mau bicara apa?” Tanya Sekar lagi.
“Aku belum tahu tujuanku. Kamu mintanya kita kemana? Yang penting, tujuanku hanya ingin berdua denganmu. Itu saja.”
“Ada ada aja, kamu.”Kata Sekar sambil tertawa geli.
Bener. Aku sangat nyaman kalau ada didekatmu. Mungkinkah kita bisa selalu bersama?”

BACA juga :  Novel Online : I'm Not Virgin (Chapter 11)

Sekar hanya angkat bahu.

“Aku sudah tahu persoalan dalam perkawinanmu.”
“Tentu Niken yang bilang.”
“Memang! Kamu ada niat untuk mengajukan gugatan cerai.”
“Entahlah…” Kata Sekar sambil menghela napas panjang.
“Kamu harus memutuskan dengan segala konsekuensinya. Atau kamu takut jadi janda?”
“Kalau keadaannya begini, kupikir lebih baik jadi janda. Daripada makan hati terus. Cuma…” Sekar menghentikan bicaranya.
“Cuma, kenapa?” Tanya Galang mengejar.
“Cuma dia nggak mau cerai. Bukankah sulit. Mengurus perceraian, bila salah satu pihak keberatan?”
“Iya. Bisa sidang sampai berkali-kali.” Kata Galang.
“Bagaimana kalau kita ganti topik pembicaran? Aku jadi nggak mood kalau membicarakan masalah ini.”
“Oke. Kalau kamu keberatan.” Kata Galang.

Sekar dan Galang sampai di sebuah restoran. Mereka mengambil tempat di sudut ruangan. Saat pelayan datang, Galang mempersilahkan Sekar untuk memilihkan menu makanan.

“Sudah lama aku ingin mengatakan hal ini. Dulu aku merasa nggak pantas. Tapi setelah kupikir-pikir, kamu harus tahu hal ini.” Kata Galang sambil menatap Sekar tajam.
“Mengenai apa?” Tanya Sekar dengan hati berdebar-debar.
“Perlu kamu ketahui. Sampai detik ini aku masih mencintaimu. Dan sampai detik ini aku masih ingin memilikimu.” Kata Galang sambil mengenggam jemari Sekar.
“Kamu gila!” Sekar kaget.
“Kok gila?” Galang bingung.
“Ya, gila, lah! Kamu suami orang, sementara aku istri orang.Bagaimana mungkin kita bisa saling memiliki? Ngawur sekali!” Kata Sekar sambil mengipaskan tangannya.
“Bukankah kamu akan bercerai dengan suamimu?” Tanya Galang.
“Aku memang ada keinginan. Tapi belum merencanakan kapan akan melakukannya.” Kata Sekar sambil menghela napas panjang.
“Sebaiknya kamu memutuskan secapatnya. Jangan suka mengantung masalah.” Kata Galang
“Galang, bisakah, kita nggak usah membicarakan hal ini? Aku males, selera makanku jadi hilang…”
“Oke! Oke! Aku minta maaf…” Kata Galang buru-buru.

Pesanan mereka datang.

“Monggo tuan putri! Silahkan dimakan.” Kata Galang sambil tersenyum lebar.

Sekar mengangguk sambil tersenyum. Sekar tak mengerti. Kenapa Galang begitu antusias ingin dirinya cerai.

Apa Galang benar-benar akan menikahinya? Lalu bagaimana dengan istrinya?

Chapter 8 : Terjebak di Ketiak Casanova

Chapter 10 : Terjebak di Ketiak Casanova

Editor : Abu Khaeri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Server PUBG Mobile Jebol, Kok Bisa Ya?

Awas Jatuh Cinta Armada

Lirik Lagu Awas Jatuh Cinta Armada