Cerita Bersambung
Cerita Bersambung

Chapter 7 : Terjebak di Ketiak Casanova

“Bikin masalah, gimana?” Tanya Galang bingung.
“Iya, lah… Nggak mungkin memiliki, kan? Masa mau merebut suami dari perempuan lain? Bukan tipeku.” Jawab Sekar.
“Mencintai bukan berarti harus memiliki, Sekar.”
“Kalau nggak ada harapan memiliki, ngapain juga mencintai……”
“Jadi maksud kamu?” Galang menatap Sekar lembut.

Mereka saling tatap.

“Aku sedih, Sekar! Karena wanita yang kucintai, tak bahagia hidupnya.”
“Kata siapa aku nggak bahagia?”
“Aku tidak perlu mengatakan kata siapa? Yang jelas, aku selalu mengamati kamu. Aku cuma ingin menyakinkan kalau kamu baik-baik saja. Dan kupikir… Kamu tidak baik-baik saja.”

Sekar hanya diam sambil menunduk dalam-dalam, teramat dalam.

“Kita pulang.” Kata Sekar berlahan.
“Iya, lah. Kita pulang. Masa mau menginap disini?”
“Kamu ini…” Sekar memukul pundak Galang.

Galang hanya tertawa sambil menyalakan mesin mobil, “Kita mampir ke rumah makan, yuk!”
“Terserah kamulah.” Kata Sekar sambil bersandar dan memejamkan mata, “Tapi ngomong ngomong, memang masih muat, itu perut?”
“Muat, sih. Kan tadi makannya sedikit. Mau banyak, nggak enak, malu, lah.”
“Punya rasa malu juga?” Tanya Sekar sambil tersenyum.
“Nah, gitu! Senyum! Aku seneng banget kalau kamu tersenyum.”

Mereka melanjutkan perjalanan dan mampir ke rumah makan.

Hubungan persahabatan mereka berempat makin erat. Sekar, Galang, Niken dan Cindy. Kadang mereka saling mengunjungi. Saling cerita lucu-lucu mengenai putra-putrinya. Kadang juga mereka saling curhat. Sekar dan Niken yang paling sering. Kebetulan jarak rumah mereka tidak terlalu jauh. Hanya beda desa. Masih satu kecamatan.

Dan Galang…?

Dia sering menjapri Sekar. Sekedar menanyakan kabar. Kadang nyerempet-nyerempet ke perasaan juga. Mengungkapkan kalau dia masih ‘love’ Sekar.

Dan Sekar?

Dia cuma membalas ungkapan itu dengan emoji menjulurkan lidah.

Kalau pagi, Galang selalu mengucapkan ‘selamat pagi’, sudah sarapan apa belum?

Kalau siang mengucapkan ‘selamat siang’, sudah makan apa belum?

Menceritakan mengenai bisnisnya. Menyuruh agar Sekar selalu menjaga kesehatannya. Menjaga hatinya agar jangan selalu dipenuhi kebencian, amarah dan dendam.

Semua perlakuan Galang terhadap dirinya membuat Sekar tersanjung. Merasa diperhatikan. Perhatian yang selama ini tidak didapat dari suaminya. Kadang Sekar mengkhayal.

BACA juga :  Novel Online : I'm Not Virgin (Chapter 11)

Andai dulu menikah dengan Galang, mungkin tidak begini nasibnya. Tapi semua itu sudah terjadi. Terbayang wajah dan senyum Galang. Namun bila membayangkan Galang, dada Sekar berubah sesak. Sesak karena tahu, tak mungkin memilikinya. Sesak memikirkan harapan yang kosong.

Saat ini, Sekar hanya ingin menikmati khayalan itu. Khayalan dapat memiliki Galang. Walau sekedar khayalan namun Sekar cukup bahagia. Kadang terbersit dalam hati untuk menanggapi semua rayuan Galang. Namun tak berani.

Takut.

Tapi tidak tahu takut pada siapa? Yang jelas takut melakukan kesalahan. Baginya, apapun alasannya, dia tidak akan melakukan hal itu. Tidak akan membuka hati untuk lelaki lain.

Bagimanapun keadaan perkawinannya tidak pernah ada niat untuk selingkuh.

Tidak akan pernah.

Semoga saja hatinya tetap tegar. Setegar karang menghadang badai yang selalu menerjang.

Sore ini, Sekar berkunjung ke rumah Niken. Ibu Sekar, Laras sedang arisan. Adit sedang latihan pramuka. Wildan sedang main bulutangkis.

Dari pada di rumah sendirian, kabur saja sekalian.

Kebetulan Niken ada di rumah. Niken kelihatan bahagia ada ‘tamu agung’. Kadang Sekar agak risih, kalau dibilang ‘tamu agung’ tapi mungkin itu ungkapan hati Niken yang sangat senang menerima kedatangan Sekar.

Niken buru-buru menyajikan minum dan cemilan. Agar ngobrolnya makin asoy, katanya.

Mereka ngobrol-ngobrol mengenang masa-masa SMA. Juga keluarga masing-masing. Saat Niken menanyakan suaminya lebih mendetail, Sekar terdiam. Dia sangat malas kalau harus membahas suaminya.

“Aku sudah tahu, kelakuan suamimu.” Kata Niken tiba-tiba.

“Kelakuan yang mana?” Tanya Sekar pura-pura tidak tahu.
“Memang ada berapa jenis kelakuan suamimu.” Tanya Niken berlagak bego.
“Berapa jenis, ya? Maumu yang mana?”
“Yang masuk kategori menyakitkan. Aku cerai dengan suamiku juga karena itu. Dia mau menikah lagi. Aku tak mau dimadu. Jadi, yach, begitulah.”
“Jadi, kamu cerai dengan suamimu. Yang aku dengar, suamimu meninggal.”
“Ya, memang meninggal. Tapi saat meninggal statusnya sudah bukan suamiku lagi.”
“Terus? Kamu tidak berniat menikah lagi?” Tanya Sekar.
“Belum ketemu yang cocok.” Jawab Niken santai.
“Aku juga berpikir ke arah itu. Kalau dia hanya menyakiti hati, buat apa dipertahankan? Cuma, yang membuatku kesulitan. Dia bertahan tidak mau cerai.” Kata Sekar.
“Kok bisa? Sering main perempuan, tapi tidak mau bercerai.”
“Masalahnya, uangnya juga kenceng. Dan ngeselinnya lagi, ngga malu-malu kalau mau makan, maen serobot aja di meja makan.
“Oh! jadi, selain sering main perempuan, dia juga pelit. Uangnya dipegang sendiri.” Niken terlihat sangat heran.
“Itulah! makanya aku ingin cerai.” Kata Sekar dengan muka sayu.

BACA juga :  Baca Novel Online : Hendrik & Lisa Bab 1

Saat mereka sedang curhat, Rudi, adik bungsu Niken, datang.

Rudi tinggal bersama Niken yang tinggal sendirian setelah bercerai dengan suaminya. Saat bercerai dengan suaminya Niken belum dikaruniai anak.

“Rud, ini temen sebangku mbak saat SMA. Kami dulu sangat akrab.” Kata Niken memperkenalkan.
Rudi menyalami Sekar dan duduk diantara mereka.
“Rudi ini adik bungsuku sekalian tempatku curhat.” Kata Niken.
Sekar tersenyum, “Berapa usiamu, Rud?”
“Dua puluh lima tahun. Semester akhir di Tehnik Sipil.”
“Wow! Hebat dong! Calon insinyur.” Kata Sekar kagum.
“Amiin! Semoga, mbak!” Kata Rudi sambil tersenyum simpatik.

“Oh,ya mbak Niken, kenapa nggak promosi jualan online, siapa tahu mbak Sekar minat.”
“Memang jualan apa?” Tanya Sekar.
“Gamis. Mau lihat?” tanya Niken penuh semangat.
“Boleh! Coba lihat. Siapa tahu aku tertarik.” Jawab Sekar antusias.
“Aku buka dulu, ya.” Niken buru-buru membuka hp melihat berbagai model gamis.
“Tinggal dulu ya, mbak.” Kata Rudi menyalami Sekar dan melangkah pergi.

“Nih, model-modelnya. Bagus-bagus, kok. Harganya juga tidak terlalu mahal. Masih terjangkau.” Niken mulai promosi.

Mereka lalu melihat lihat model-model gamis tersebut.
“Ini berapa?” Tanya Sekar.
“Tiga ratus lima puluh. Mau yang ini?”
“Iya. Hijau tosca. Simpel. Aku suka model yang simpel-simpel.”
“Oke! Aku pesankan, ya.”
“Oke! Yang ukuran L.” Jawab Sekar dengan senyum ceria.

Setelah Sekar pulang. Niken menceritakan keberadaan Sekar juga gamis pesananya pada Galang. Malah Niken mengirim foto-foto Sekar yang diambil secara sembunyi… tanpa sepengetahuan Sekar.

Chapter 6 : Terjebak di Ketiak Casanova

Chapter 8 : Terjebak di Ketiak Casanova

Editor : Abu Khaeri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

garuda select

4 Pemain Garuda Select Berpotensi Bermain Di Eropa! Siapa Saja?

Cerita Bersambung

Chapter 8 : Terjebak di Ketiak Casanova