Cerita Bersambung
Cerita Bersambung

Chapter 6 : Terjebak di Ketiak Casanova

Halooo! Masih ingat aku?” Tanya salah satu dari perempuan itu.
“Siapa, ya?” Sekar berusaha keras mengingat-ingat.
“Masa lupa? Dulu kita sebangku.” Kata perempuan itu sambil memeluk Sekar.
“Niken!” Teriak Sekar, setelah berusaha keras mengingat-ingat.

“Berapa tahun kita nggak ketemu? Lima belas tahun, ya?”
“Iya, lima belas tahun. Ini siapa aja? Hayo tebak!” Tanya Niken sambil menunjuk ketiga temannya.

Sekar menatap lekat-lekat mereka sambil mengingat-ingat.
“Ini Cindy. Ini Hendra!” Kata Niken membantu Sekar mengingat teman-teman SMA nya itu.

“Dan… Ini? Pengagum beratmu. Mampukah kamu melupakannya?” Tanya Niken lagi.

Sekar menatapnya. Ada desiran halus di relung hatinya.

Ya! Galang.

Galang yang sempat mengungkapkan perasaannya. Namun saat itu Sekar belum berpikir sejauh itu.

“Kamu pasti tidak lupa, kan?” Tanya Cindy mengoda.
Sekar hanya tertawa kecil. Galang hanya senyam-senyum sambil mengamati segala gerak gerik Sekar. Salah tingkah juga Sekar dibuatnya.

“Ya udah. Ayo duduk dulu!” Kata Sekar sambil mempersilahkan mereka ke ruang tamu yang berada di belakang toko.

Setelah mereka duduk, Sekar menyajikan minuman dan makanan kecil. Mereka ngobrol akrab. Mengenang masa masa SMA. Mereka ngobrol ngalor ngidul diselingi tawa ria. Dan juga mengenai rencana untuk mengadakan reuni SMA. Begitu asyiknya ngobrol sampai lupa waktu. Tiba-tiba sudah sore. Mereka pamit setelah saling bertukar nomor telepon.

Sejak itu mereka sering berkomunikasi lewat Whatsapp. Galang membuat group WA ‘BIO2004” Khusus sekelas. Makin lama jumlah anggotanya makin bertambah. Di group tersebut mereka bercengkrama melepas rindu. Bila di group WA, Sekar komentarnya selalu riang gembira. Namun dia sering japri Niken untuk sekedar curhat. Walau curhatnya secara samar-samar namun Niken menangkap ketidakberesan perkawinan Sekar.

Niken menceritakan hal itu pada Galang. Karena Niken sangat tahu, sampai saat ini Galang masih mencintai Sekar. Masih perduli pada Sekar. Galang yang pura-pura tidak tahu dengan keadaan Sekar, lewat Niken memberikan masukan untuk kebaikan Sekar.

Atas saran Galang, Niken sering memotivasi Sekar. Memperkenalkan pada salon. Agar Sekar selalu menjaga penampilan. Agar tidak kalah dengan Wildan. Kalau Wildan masih bisa “menggaet” perempuan lain di luar sana, Sekar juga mampu melakukan hal yang sama. Sekar setuju untuk menjaga penampilan, namun kurang setuju kalau tujuannya untuk mengaet lelaki lain.

Semenjak itu, kehidupan Sekar berubah total. Dia sudah tidak mengasihani diri sendiri. Hidupnya lebih bersemangat. Selalu memperhatikan penampilan juga rutin lari pagi untuk menjaga kesehatan. Laras, Ibu Sekar sangat bahagia dengan perubahan positif dalam diri Sekar.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.

Reuni SMA.

Acaranya diadakan di suatu rumah makan, di kota. Sekar, Niken, Cindy, dan Galang berjanji untuk bertemu di suatu tempat. Motor Mekar dan lainnya dititipkan ke penitipan sepeda motor. Mereka berempat naik mobil Galang. Niken dan Cindy berebut naik di jok belakang, dan Sekar disuruh di depan, bersebelahan dengan Galang.

BACA juga :  Novel Online : I'm Not Virgin (Chapter 11)

Selama dalam perjalanan mereka ngobrol. Rame banget. Sekar berusaha mengikuti irama mereka, namun kadang kala tanpa sadar sering menghela napas panjang, melepas sesak di dada. Semua itu tak luput dari pengamatan Galang. Galang tahu ada keresahan di hati Sekar. Keresahan yang tak pernah terungkap pada siapapun.

Di tempat reuni Galang bercerita dengan Niken dan Cindy. Dia ingin bicara empat mata dengan Sekar. Mereka segera mengatur siasat. Mereka berencana untuk membeli tanaman hias. Sampai di tengah jalan Niken dan Cindy turun mendadak. Beralasan teringat ada janji dengan keluarga. Mau tidak mau tinggal Sekar dan Galang yang masih berada di mobil itu.

Turunnya Cindy dan Niken memberi kebebasan Galang untuk bicara dengan Sekar. Siap mendengar segala keluh kesahnya. Namun Sekar tidak pernah bersedia untuk menceritakan beban di hatinya. Benar-benar tersimpan rapat.

Mereka sampai di penjual tanaman hias. Galang buru-buru keluar mobil dan membukakan pintu untuk Sekar.

“Silahkan tuan putri,” kata Galang sambil membukakan pintu.
“Makasih.” Kata Sekar sambil keluar mobil.
Galang berdiri tepat di depan Sekar yang baru keluar mobil.

“Sekar, dari tadi aku perhatikan kamu selalu menghela napas panjang. Kenapa?” Tanya Galang sambil menatap tajam Sekar. Tepat di depan tubuhnya.
Sekar jadi salah tingkah, rasanya tak karuan. Dia mencoba menyembunyikan wajah dari tatapan Galang.

“Sekar, ceritakanlah. Mungkin aku bisa bantu.” Galang menghalangi Sekar yang berusaha menghindar dengan kedua tangannya.
“Aku nggak mungkin menceritakan pada kamu, juga siapapun. Tak mungkin.” Kata Sekar sambil geleng geleng kepala.
“Kenapa?” Tanya Galang.
“Aku nggak mungkin menceritakan kekurangannya.” Sekar menunduk dalam-dalam.
“Aku nggak meminta kamu untuk menceritakan kekurangannya. Aku hanya mau kamu menceritakan masalahmu. Siapa tahu aku bisa bantu.” Kata Galang lembut.
“Tapi yang jadi sumber masalahku, ya… kekurangannya… Aib dia… Menceritakan aibnya sama artinya membuka aibku sendiri. Sudahlah…” Sekar mencoba tegar.

Namun Sekar tak mampu menahan tangisnya. Akhirnya pecah juga.
Dengan lembut Galang menarik kepala Sekar ke dadanya dan menekan kepalanya hingga benar-benar di dadanya dan membiarkan Sekar menyelesaikan tangisnya.

“Maaf!” Sekar buru-buru menjauhkan wajah dari dada Galang sambil menghapus air matanya.
“Nggak apa-apa Sekar. Kamu boleh bersandar disini. Aku siap, kok.” Kata Galang sambil menarik kepala Sekar lagi.
“Itu kan maumu” Kata Sekar sambil tertawa malu dan menyelamatkan kepalanya.
“Kok kamu malah bilang begitu……”Kata Galang sambil memijit hidung Sekar.
Tuh, kan? Kesempatan dalam kesempitan.” Kata Sekar sambil berjalan duluan.
“Tunggu Sekar.” Galang geleng-geleng kepala dan buru buru menyusul Sekar.

Tampak Sekar sedang melihat-lihat tanaman hias.
“Itu bagus.” Kata Galang menunjuk ke salah satu tanaman hias.
“Aku pengen yang warna kuning dan ungu.” Kata Sekar sambil jalan-jalan keliling.
“Warna kuning tandanya berduka. Kalau ungu berarti janda.” Kata Galang sambil tertawa.
“Jadi janda… is oke. Daripada makan hati terus-terusan.” Sekar buru-buru menutup mulutnya yang keceplosan.

BACA juga :  Baca Novel Online : Hendrik & Lisa Bab 1

“Maksud kamu?” Galang menyambar tangan Sekar.
Ehmm! Nggak apa-apa. Cuma bercanda.” Kata Sekar gugup.
“Aku tahu ini bukan bercanda. Ini ungkapan perasaanmu.” Kata Galang lagi.

Sekar pura-pura tidak mendengar. Dia fokus memilih tanaman hias dan menawar ke penjualnya. Galang hanya diam menunggu. Dan saat Sekar akan membayar, Galang buru-buru membayar duluan.

“Nggak usah, Galang!” kata Sekar.
“Nggak apa-apa. Aku pingin bayar, kok. Demi kamu” Kata Galang sambil membawa tanaman itu.
“Gombal!” Kata Sekar.
“Mau nambah lagi?” Tanya Galang.
“Apa! Nambah lagi, ya? Mumpung gratis, ah!” Kata Sekar sambil mengerling ke Galang.
“Monggo. Dengan senang hati.” Kata Galang sambil tersenyum lebar.
Nggak! Bercanda. Yuk! Kita pulang aja.” Kata Sekar sambil mengambil salah satu tanaman pilihannya dari tangan Galang.
“Tunggu, sebentar…..” Kata Galang.
Galang buru-buru memilih beberapa tanaman hias, membayarnya dan minta tolong penjualnya untuk bantu membawa ke mobil.
“Banyak amat? Kamu beli juga?” Tanya Sekar sambil memperhatikan tanaman itu.
“Buat kamu.” Kata Galang.
“Buat aku?” Sekar bingung.
“Yuk! Ke mobil.” Galang berjalan duluan.
“Makasih ya, Galang! Makasih banget. Kamu kok tahu, kalau aku suka tanaman hias.”
“Aku tahu semua hal yang kamu suka dan kamu nggak suka.”
“Masa? Kok bisa?” Sekar heran.
“Karena aku mencintaimu.”Kata Galang.
“Gombal lagi.” Kata Sekar sambil menjibir.
“Sekar, aku tidak gombal. Dari dulu sampai sekarang aku masih tetap mencintaimu.” Kata Galang sambil menatap Sekar lembut.

Sekar pura-pura tidak mendengar. Berjalan mendahului ke mobil. Galang buru-buru mengejar Sekar dan membukakan pintu mobil.
“Tanamannya ditaruh dibelakang saja, ya?” kata Galang membuka pintu belakang ke penjual tanaman.
“Makasih, mas.” Kata Galang.

“Monggo, tuan putri!” Galang membukakan pintu buat Sekar.
Sekar hanya tersenyum sambil masuk mobil. Galang duduk di belakang setir.
“Siap Nyonya? Kita jalan.” Kata Galang sambil tersenyum manis.
“Tadi tuan putri, sekarang nyonya. Payah! Nggak konsisten.”
Galang hanya tertawa geli sambil mengusap kepala Sekar.

“Sekar, perlu kamu ketahui, aku merasa sangat nyaman kalau ada dekat kamu.”
“Masa?” Kata Sekar sambil menurunkan tangan Galang dari kepalanya.
“Benar! I love you. Apakah kamu juga sama?” Galang sangat berharap.

Sekar berpikir. Untuk beberapa saat waktu terasa berhenti. Galang mencoba menenangkan hati dan menyiapkan mental dengan apapun jawaban Sekar.

Hening…

“Aku nggak akan love sama suami orang. Bikin masalah doang.” Jawab Sekar tegas.

Chapter 5 : Terjebak di Ketiak Casanova

Chapter 7 : Terjebak di Ketiak Casanova

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sunda Empire Deddy Corbuzier

Deddy Corbuzier bahas Sunda Empire, Petinggi: Nggak Sopan!

PSSI dan Menpora

Minta Kantor Baru, Menpora Tantang PSSI!