Cerita Bersambung Elipsir
Cerita Bersambung Elipsir

Chapter 3 : Terjebak di Ketiak Casanova

“Maksud Ibu, aku meminta duit secara paksa?” Tanya Sekar tak mengerti.

“Bukan itu. Kamu harus menghapus keinginan untuk minta uang pada suamimu.”

Sekar tertegun. Belum memahami maksud ibunya.

Laras tersenyum, “Kamu harus mandiri. Jangan hanya berpangku tangan.”
“Tapi bagaimana caranya, Bu? Aku kan disuruh keluar kerja sama mas Wildan.”

Sekar bingung.

“Bekerja itu tidak harus di kantoran. Kamu bisa jualan?” Kata Laras sambil tersenyum lagi.
“Iya ya, Bu.” Sekar mulai mengerti jalan pikiran ibunya.
“Kamu masih punya tabungan?” Tanya Laras.
“Ada sedikit, Bu. Tapi tabungan ini buat kebutuhan sehari-hari kita. Ibu tahu sendiri bagaimana sikap mas Wildan,” kata Sekar.
“Ibu ada sedikit perhiasan. Bisa kamu jual untuk modal usahamu,” kata Laras sambil tersenyum.
“Iya, bu. Terima kasih.Tapi nanti aku mau cari cara dulu, yang tidak usah pakai modal,” kata Sekar.

Laras mengangguk sambil tersenyum.

Sekar bukan tipe perempuan manja. Walau anak tunggal, sejak kecil Sekar sudah dididik orang tuanya untuk mandiri. Sekar memutar otaknya mencari cara agar punya penghasilan sendiri. Dimulai dengan menjualkan dagangan temannya yang berupa gaun, mengambil sedikit keuntungan. Lama-lama bisa kulakan sendiri. Dijual ke teman-teman terdekat. Saat ada arisan sekalian membawa dagangannya. Lalu ada yang pesan gaun, pesan sarimbitan. Ada yang ingin lihat model model gaun lewat WA. Akhirnya dia mempromosikan dagangannya lewat online. Dengan berniaga lewat online, masih banyak waktu yang tersisa.

Sekar akhirnya menjual emas milik ibunya dan uangnya digunakan untuk merenovasi ruang tamu rumahnya menjadi dua. Bagian depan untuk toko, menjualan sembako dan bagian belakang untuk ruang tamu.

Awalnya hanya jualan gula, teh, sabun mandi, pasta gigi. Shampo dan lain lain. Berkat keuletannya toko makin berkembang dan makin lengkap. Semua itu hasil jerih payah Sekar sendiri tanpa bantuan orang lain sedikitpun, apalagi suaminya. Sekarang Sekar tidak jualan online lagi.

Dia ingin fokus ke toko sembako saja. Dan benar memang. Setelah fokus, toko sembakonya berkembang pesat. Sekarang isinya lengkap. Bahkan ada penjual kecil yang kulakan di tempatnya. Penghasilannya bertambah besar.

Itu memberi kepuasan tersendiri.

Wildan yang sibuk dengan dunianya sendiri tidak terlalu memperhatikan keadaan rumah, tidak menyadari kalau toko itu makin berkembang pesat. Dia sibuk chatting dengan perempuan-perempuan cantik di luar sana.

BACA juga :  Baca Novel Online : Hendrik & Lisa Bab 3

Dia merasa aman karena Sekar sekarang jadi orang rumahan.

Pikiran yang sangat keliru. Karena Sekar sering kali mendapat kiriman WA dari temannya, tetangganya yang menunjukan foto Wildan bersama perempuan lain.

Sekar sudah mengetahui keburukan suaminya. Ternyata senyumnya yang mempesona itu, juga mempesona perempuan-perempuan lain. Ternyata Wildan punya hobby “koleksi” perempuan cantik. Dan gaya hidupnya sangat royal. Selalu menuruti keinginan mereka dalam hal materi.

Tapi dengan Sekar yang istrinya sendiri malah sangat pelit. Ada dua point kekurangan Wildan. Pelit dan playboy.

Point yang sangat trategis.

Tidak dapat dikompromi lagi.

Namun Sekar masih bersabar.

Sabar… sabar yang Sekar lakukan. Dia hanya diam dalam menyikapi perlakukan suaminya. Tidak menyadari kalau rasa sakit hati yang dipendam terlalu lama akan menimbulkan penyakit. Tidak sadar kalau hatinya sering merasa hampa dan kosong. Semua itu karena perlakukan suaminya.

Lama-lama, Sekar malah bersikap masa bodoh dan cuek. Mengasingkan diri dari hubungan sosial dengan tetangga, sedikit bicara kecuali hanya untuk keperluan jual-beli di tokonya. Hal itu dilakukan karena tak punya cara untuk menutupi kekurangan suaminya… yang sudah menjadi rahasia umum. Tetangganya sering menanyakan kebenaran gosip tentang suaminya.

Ia memilih tak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ia merasa mereka tak perlu tahu kekurangan suaminya. Bagaimanapun juga itu aib. Dan aib pasangan hidup harus ditutup serapat mungkin.
Hubungan yang tidak seimbang. Yang satu berusaha menutupi aib pasangannya. Yang punya aib justru semakin merajalela. Bukannya intropeksi diri dan berusaha memperbaiki tapi malah merasa semakin bebas. Merasa diatas angin. Aneh….sangat aneh. Diamnya Sekar dirasakan sebagai ketidak perdayaan. Dan Wildan semakin over… semakin bertingkah.

Sekarang sifat playboynya sudah ditunjukan secara terang-terangan. Sudah tidak sembunyi-sembunyi lagi. Tidak perduli kalau sifatnya menimbulkan rasa sesak di dada. Wildan benar-benar tidak menjaga perasaan istrinya.

Parah. Sangat parah!

Sepulang kerja, bukannya mendekati Sekar di toko dengan senyum manis, tapi Wildan dengan santainya meletakkan tas dan langsung menuju meja makan. Tanpa babibu langsung makan dengan lahapnya. Seperti anak remaja sedang jatuh cinta.

BACA juga :  Baca Novel Online : Hendrik & Lisa Bab 2

Sambil makan masih sibuk chatting dengan orang lain. Dapat ditebak. Lawan chattingnya adalah perempuan selingkuhannya.

“Mbok kalau sedang makan, makan saja… WA-nya nanti lagi….” Kata Sekar sambil duduk di hadapan Wildan.
“Kamu ini. Hobinya menganggu kesenangan orang,” Wildan menatap tajam.
“Aku heran sama kamu, Mas. kamu ini menganggap aku siapamu?” Sekar tersernyum tipis.
“Apa maksudmu?” Wildan mulai emosi.
“Kamu kalau pulang kerja langsung makan……”
Lha, aku disuruh ngapain?”
“Maksudnya kamu nggak pernah menafkahi aku tapi kok nggak malu ikut makan,” Kata Sekar berlahan.
Lho! bukannya kamu sudah punya penghasilan sendiri? Tentunya kamu tidak membutuhkan uangku”

Sekar hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis.
“Bukan begitu rumusnya?” Kata Sekar berlahan.
“Kok pakai rumus? Emangnya Matematika saja,” kata Wildan, masih sambil makan dengan lahapnya.
“Kalau mas butuh makan berarti butuh uang untuk membelinya. Bukan datang datang langsung makan. Butuh bahan makanan, butuh beli gas, butuh airnya. Dan segala macam,” kata Sekar lagi.
“Aku tahu. Tapi kamu sudah dapat memenuhi semua itu. Biarlah kamu yang melakukan dan uangku ditabung untuk jaga-jaga bila ada kebutuhan mendadak,” jawab Wildan.
“Coba! Aku lihat buku rekeningnya. Ada berapa jumlah tabunganmu?”
“Ini sindiran. Kamu curiga sama aku ya?”
“Curiga yang wajar,” kata Sekar dengan santainya.
“Rasa curigamu membuat selera makanku hilang,” kata Wildan sambil berdiri meninggalkan makanannya yang masih separo.
“Sulit berbicara dengan orang yang tidak punya malu,” kata Sekar sambil melangkah pergi.
“Tunggu! Kamu nggak ikhlas aku makan di rumah?” Wildan berbalik mendengar omongan Sekar.
“Oh! Ikhlas, kok. Ikhlas sekali. Silakan dinikmati.” Kata Sekar, berhenti sesaat dan melanjutkan jalan menuju toko.
“Perempuan bisanya menuntut terus!” Gerutu Wildan.
“Menuntut. Tapi nggak pernah dipenuhi,” jawab Sekar.

Wildan cuek, membuka HP nya lagi.
“Indah, Indah, tadi baru ketemu, kok sudah bilang kangen,” gumam Wildan sambil menjawab WA.

Sekar yang belum jauh berjalan, mendengar nama yang disebut Wildan. Indah. Sekar mengingat-ingat nama itu.

Chapter 2 : Terjebak di Ketiak Casanova

Chapter 4 : Terjebak di Ketiak Casanova

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerita Bersambung Elipsir

Chapter 2 : Terjebak di Ketiak Casanova

PT LIB

Ini Dia Susunan Direksi PT LIB Periode 2020!!