Cerita Bersambung Elipsir
Cerita Bersambung Elipsir

Chapter 2 : Terjebak di Ketiak Casanova

Sekar…ibu lihat selama ini kamu dan Wildan tidak pernah keluar,” kata Laras pada putrinya.
“Keluar, apa maksud ibu?” Tanya Sekar tidak mengerti.
“Ya…keluar, makan diluar misalnya. Kalau tanggal muda kalian kan dapat bayaran…..kok tidak pernah makan di luar atau beli apalah….”
“Duit bayaran kami ditabung, bu….”Sekar berusaha menutupi kegundahan hatinya.
“Masa ditabung semua….?” Tanya Laras, menyelidiki.
“Iya…..mas Wildan yang menginginkan hal itu. Katanya buat jaga-jaga kalau suatu saat nanti ada kebutuhan mendadak…..,” kata Sekar.
“Terus, bayaran Wildan, kamu yang nabung?” Tanya Laras.

Sekar diam beberapa saat. Dia sedang menimbang-nimbang, jawaban apa yang akan diberikan pada ibunya.

“Lha bayaran Wildan berapa sih? Ibu nggak akan minta, cuma pingin tahu aja…,” kata Laras sambil tersenyum.

Sekar masih menimbang nimbang lagi. Sebaiknya terus terang atau berbohong?

“Sekar, Wildan suamimu. Aku ibu kandungmu. Tidak ada bekas ibu kandung… Jadi apapun masalah kamu, ceritakan pada ibu. Siapa tahu ibu bisa membantu,” kata Laras sambil menatap Sekar lekat-lekat.
“Iya, Bu. Mas Wildan nggak pernah memberiku uang sama sekali,” kata Sekar dengan nada sedih.

“Hmm! Ibu sudah menduga. Tapi ibu tidak menyangka sama sekali kalau Wildan hanya ikut makan disini,” kata Laras lagi.

Sekar mengangguk berlahan, lemas.

“Mungkin nanti kalau kalian sudah punya anak, Wildan akan berubah…”
“Aku pesimis mengenai hal itu,” kata Sekar lirih.
“Tiap orang ada kesempatan untuk berubah. Semoga saja kalau keadaan berbeda pola berpikir Wildan akan berbeda pula.”
“Semoga, Bu,” kata Sekar pelan.
“Semoga dengan kehadiran anak, Wildan akan lebih sayang padamu,” kata Laras penuh harap.

Waktu berlalu begitu cepat. Pernikahan mereka sudah berjalan dua tahun. Kini mereka sudah dikaruniai putra yang tampan, Adit.

Namun sayang, Seno tidak bisa lama dalam menemani cucu yang selama ini diharapkan kehadirannya. Baru beberapa bulan usia cucunya, Seno meninggal karena serangan jantung. Dengan meninggalnya Seno, Wildan semakin merajalela. Dia merasa bebas untuk berbuat seenaknya tanpa ada seseorang yang perlu dihormati dan dijaga perasaannya.

Kehadiran Adit menjadi alasan Wildan untuk melarang Sekar bekerja agar mengurus anak saja. Biarlah hanya Wildan yang bekerja. Sekar menuruti keinginan suaminya. Namun Sekar juga bingung dengan pola berpikir suaminya. Di satu sisi menyuruh berhenti bekerja tapi di sisi lain tidak pernah menafkahi.

Lalu buat kebutuhan sehari hari dapat duit dari mana?

Selama ini Sekar bekerja dengan penghasilan yang lumayan besar. Untuk kebutuhan sehari hari selalu dengan bayaran dirinya.

Lha sekarang?

Uang dari mana?

Sekar pikir dengan melarangnya untuk bekerja Wildan akan mencukupi segala kebutuhannya. Ternyata tidak sama sekali.

Sekar masih diam karena tabungannya masih ada. Tapi karena digunakan terus tanpa ada pemasukan, lama kelamaan tabungan semakin tipis. Hal itu memaksa Sekar memberanikan diri meminta uang pada Wildan.

“Lho! Kok jadi minta aku? Bukankah sebagai suami istri harus saling bantu? Saling menyokong? Kalau sedikit sedikit kamu minta duit, ya… sengsara di aku dong,” kata Wildan dengan suara tinggi.

“Tunggu dulu, Mas. Kamu yang menyuruhku berhenti bekerja. Berarti siap dengan konsekuensinya dong,” kata Sekar.

“Konsekuensi apa?” Wildan terlihat ngotot.

“Hmmm… Sebenarnya ini bukan konsekuensi, tapi ini suatu kewajiban. Kewajiban bahwa suami harus menafkahi istri…,” kata Sekar tegas.

Wildan hanya diam menunggu.

Sekar melanjutkan kata-katanya, “Selama ini mas tidak menafkahiku, oke… Aku tidak masalah karena selama ini aku punya penghasilan sendiri…. Tapi sekarang, setelah berhenti bekerja atas perintah mas, aku tidak punya penghasilan sama sekali.”

“Aku menyuruhmu berhenti bekerja agar Adit ada yang ngurus. Nanti aku kasih duit buat kebutuhan sehari hari Adit. Bukan buat kamu juga ibu kamu. Mengerti?” Kata Wildan sambil melangkah pergi.
Sekar hanya mampu termenung. Tidak mengerti dengan pola berpikir suaminya.

Laras yang secara tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala. Ternyata kelahiran Adit, cucu kesayangannya tidak merubah pola berpikir Wildan. Berarti sudah tidak ada harapan lagi.

Laras berjalan mendekati Sekar yang masih duduk merenung.

“Jangan hanya melamun. Kamu harus bertindak.” Kata Laras penuh bijaksana.

Chapter 1

Chapter 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dalan Liyane Cover Happy Asmara

Dalan Liyane Cover Happy Asmara

Cerita Bersambung Elipsir

Chapter 3 : Terjebak di Ketiak Casanova