Cerita Bersambung
Cerita Bersambung

Chapter 15 : Terjebak di Ketiak Casanova

Walau Wildan tidak pulang, Sekar tidak kaget. Paling-paling tidur di kontrakan Lilik. Kemarin Sekar sudah menyelidiki keberadaan Lilik. Rumah yang dimaksud Nunung. Secara kebetulan Lilik keluar rumah.

Bahkan Sekar bisa ngobrol dengan Lilik, pura-pura tanya alamat.

Lilik selalu menjilat bibir setelah berbicara. Menurut eyang putri, perempuan yang setiap habis bicara menjilat bibirnya, adalah perempuan genit. Berarti Lilik perempuan genit. Masuk akal. Kalau tidak genit, tak mungkin begitu gampangnya terpikat Wildan.

Tapi sudahlah… Itu tidak penting.

Yang penting sekarang membalas chatting Galang.

Chatting yang isinya hanya rayuan gombal. Walau sadar kalau itu hanya gombal, tapi Sekar menyukainya. Paling tidak, itu bisa mengobati luka di hatinya. Luka hati pada Wildan. Yang penting gombal-gombalnya tidak menjurus ke hal-hal yang saru dan tidak senonoh. Bahasanya juga masih sopan. Tidak ada bahasa yang melecehkan Sekar sebagai perempuan. Masih menghargai Sekar. Itu yang membuat Sekar merasa makin nyaman.

Galang tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kadang ada lelaki yang iseng pada perempuan yang perkawinannya tidak bahagia. Galang bukan termasuk lelaki jenis itu.

Pulang senam, Sekar langsung membuka tokonya kembali.

Terlihat Wildan pulang. Motornya melaju ke samping rumah.

“Hmm… Semalam dia tidur di kontrakan Lilik. Dan sekarang mau tidur disini? Enak sekali dia.” Sekar bicara sendiri.

Wildan hanya menoleh ke Sekar sebentar dan langsung masuk rumah. Lewat pintu samping.

Sekar hanya menghela napas panjang. Tak habis pikir dengan pola berpikir Wildan. Wildan yang datang dan pergi seenak sendiri.

Wildan merasa tidak nyaman. Tadi Sekar menyambut kepulangannya dengan tatapan asing.

Apakah Sekar sudah tidak mengharap kehadiranku, atau perasaanku saja? Batin Wildan

Tadi waktu istirahat Wildan tidak makan di luar. Dompetnya mulai menipis. Kemarin, selesai makan diluar dengan Lilik dan Dina, mereka mampir untuk beli sepatu buat Dina. Untuk mencegah pengeluaran lagi, Wildan berniat untuk makan di rumah. Wildan berharap Sekar masak enak untuk dirinya. Namun saat membuat tudung saji. Kosong!

Seketika timbul rasa kecewa dan marah pada Sekar. Dari tadi menahan lapar, berharap ada nasi beserta lauknya di rumah, ternyata kosong sama sekali. Wildan hanya geleng-geleng kepala sambil masuk kamar. Setelah berganti pakaian rumah, Wildan ke toko menghampiri Sekar.

“Aku pulang sore. Di meja makan tak ada makanan sama sekali. Kamu nggak masak?” Tanya Wildan sambil berdiri disamping Sekar.
“Aku cuma masak nasi. Lauknya beli. Bukannya kamu sudah makan di rumah istri muda?”
“Istri muda, siapa?” Tanya Wildan kaget.
“Lilik. Atau ada yang lain lagi?” Tanya Sekar.
“Aku sudah tak ada hubungan dengan Lilik.” Kata Wildan.
“Oh, begitu? Lalu semalam kamu tidur di mana?” Tanya Sekar.
“Di rumah temen.” Jawab Wildan.
“Baik hati juga, temenmu. Mau menampungmu.” Jawab Sekar sambil tersenyum tipis.
Yach, begitulah.” Jawab Wildan sambil angkat bahu.
“Pasti temenmu cewek.” Kata Sekar.
“Hah! Apa maksudmu?” Wildan kaget.
“Aku udah ketemu temenmu, kok. Lumayan cantik.”

BACA juga :  Baca Novel Online : Hendrik & Lisa Bab 2

Wildan kaget. Mulai menerka-nerka arah pembicaraan Sekar.
“Punya anak satu, kelas 2 SD. Rumahnya terpencil, kan? Depannya ada pohon Akasia” Kata Sekar sambil mengamati perubahan wajah Wildan.
“Siapa yang kamu maksud?” Tanya Wildan penasaran.
“Temenmu, kan? Tadi kamu bilang, temen.” Kata Sekar sambil tersenyum tipis.
“Kamu menyelidikiku?” Tanya Wildan penasaran.
“Ah! Buang-buang energi. Nggak sengaja aja, aku melihatmu disana.” Jawab Sekar santai.
“Kapan?” Tanya Wildan mengejar.
“Kapan, ya? Lupa. Nggak penting, sih. Jadi nggak perlu kuingat-ingat.”
“Kamu hanya mengertakku.” Kata Wildan menyeringai.
Skak mat! Kamu bisa membohongi kedua orang tuamu, tapi nggak bisa membohongiku.” Kata Sekar sambil menatap tajam Wildan.

Wildan tertegun beberapa saat. Namun dia buru-buru tersenyum untuk menutupi kegundahan hatinya.
“Sebaiknya aku mandi dulu….”Kata Wildan sambil beranjak.
Sekar hanya tersenyum tipis.

Aneh. Sikap terhadap istri, seperti sikap terhadap ibunya. Main dan kalau lapar pulang untuk makan tanpa pernah berniat untuk menafkahi. Aneh sekali. Batin Sekar

Sambil melangkah, Wildan berpikir keras. Bagaimana Sekar bisa tahu keberadaan Lilik? Padahal sudah disembunyikannya di tempat terpencil. Jauh dari tetangga. Tapi ketahuan juga. Pantas saja Sekar mengacuhkannya.

Tapi sudahlah, biarkan saja.

Toh, Sekar sudah tahu kalau itu kekurangannya. Kekurangan yang harus dimaklumi. Bukankah setiap orang punya kekurangan? Bukankah tidak ada orang yang sempurna? Wildan selalu mencoba memaklumi dirinya dan berharap Sekar juga akan memakluminya.

Wildan duduk di kursinya meja makan sambil merenung. Laras lewat. Wildan bermaksud untuk tersenyum, namun melihat Laras yang seakan tak atau lebih tepatnya, pura-pura tidak melihat dirinya, membuatnya mengurungkan niatnya.

Laras memang sengaja pura-pura tidak melihat Wildan. Dia pikir itu lebih baik. Dari pada bicara ketus atau kasar, lebih baik diam dengan pura-pura tidak melihat kehadirannya.

Kalau bukan karena Condro dan Sundari memohon-mohon agar memaafkan Wildan. Mungkin Laras sudah mengusir Wildan dari rumahnya. Perbuatannya sudah keterlaluan. Terlalu menyakiti putrinya. Laras tidak ikhlas. Seandainya Sekar memaafkan Wildan-pun. Laras tetap tidak bisa memaafkan. Rasa sayang yang begitu dalam pada putrinya menimbulkan empati yang berlebihan. Sehingga rasa sakit hatinya terhadap Wildan melebihi rasa sakit hati Sekar sendiri.

Adit yang baru pulang dari bermain, masuk rumah langsung membuka kulkas. Mengambil air dingin.
“Adit sudah pulang?” Tanya Laras dari arah dapur.
“Iya, Eyang.” Jawab Adit. Lalu minum.
“Mandi. Sudah sore.” Kata Laras lagi.
“Baik, Eyang.”Jawab Adit.

Adit ke kamar mengambil baju ganti dan melangkah ke dapur, melintasi Wildan yang masih duduk di kursi meja makan.

Wildan menyambar tangan Adit, berniat bercanda. Namun Adit menepisnya.

Wildan sempat kaget. Kenapa Adit juga mengacuhkan dirinya?

Wildan benar-benar merasa asing di rumahnya. Tapi rumah Sekar dan Wildan menumpang. Menumpang karena statusnya sebagai suami Sekar. Wildan baru menyadari kalau selama ini hanya menumpang. Menumpang seratus persen. Karena selama ini tidak pernah menafkahi Sekar. Justru ikut makan.

Merasa diacuhkan keluarga, Wildan merasa tidak nyaman. Akhirnya memutuskan untuk tidur di kontrakan Lilik saja.

BACA juga :  Novel Online : I'm Not Virgin (Chapter 11)

Wildan mengeluarkan motornya.

“Ayah mau kemana?” Tiba-tiba Adit di belakangnya.
“Mau tidur di rumah temen.” Jawab Sekar, menyindir Wildan.
“Kenapa ayah tidur di rumah temen?” Tanya Adit lagi.
“Kasihan…  Temennya tidur sendiri. Jadi ayah nemenin.”Jawab Sekar lagi.
Kok yang jawab ibu terus, sih?” Tanya Adit, bingung. “Ayah dong… Yang jawab.”
“Semua jawaban ibu, betul semua, Adit.” Jawab Wildan sambil tersenyum.
“Tuh, kan. Jawaban ibu betul.” Kata Sekar.
Adit mengangguk sambil tersenyum.
“Ayah berangkat dulu ya, Adit.” Kata Wildan sambil menyalakan mesin motornya.
“Iya, ayah. Hati-hati.” Jawab Adit sambil menatap ibunya.
Wildan mengangguk sambil tersenyum, dan melaju.

“Ayah baik hati ya, Bu?”Kata Adit dengan lugunya.
Sekar menutupi mulutnya yang pengen tertawa.

“Dasar anak kecil!”

Wildan memang bermaksud menginap di kontrakan Lilik.

Tapi ternyata pintunya terkunci. Berkali-kali Wildan mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban. Rumah itu kosong. Lilik tidak ada. Wildan mencoba menelepon Lilik. Namun tidak online.

Wildan bingung.

Kemana harus menginap malam ini?

Pulang ke rumah Sekar, tak mungkin. Tadi sudah pamit. Tidak ada pilihan lain. Ke rumah orang tuanya. Lalu alasan apa yang akan diberikan kepada kedua orang tuanya, bila mereka menanyakan alasannya menginap di rumahnya.

Entahlah… Kupikirkan sambil jalan. pikir Wildan

Benar saja. Di rumah orang tuanya Wildan diinterogasi.
“Kenapa kamu menginap disini?” Tanya Condro dengan pandangan menyelidik.
“Aku ingin bisa ngobrol-ngobrol dengan Ayah dan Ibu.” Jawab Wildan.
“Ngobrol-ngobrol kan bisa dilakukan tadi sore. Bukan malam-malam baru datang.” Kata Condro lagi.
“Lagi pula kalau kamu akan menginap disini, harusnya istri dan anakmu diajak.” Timpal Sundari.
“Mereka nggak mau, Bu. Apalagi Sekar. Dia lebih mementingkan tokonya.” Kata Wildan.
“Ya. Kalau malam begini, tokonya sudah tutuplah.” Jawab Sundari.
“Ayah kok, nggak percaya. Rasanya nggak mungkin Sekar menolak diajak menginap disini.” Kata Condro.

Wildan hanya diam. Tidak berani bicara lagi. Takut kalau terlalu banyak bicara, justru akan ketahuan kebohongannya.

“Begini Wildan, Ayah punya syarat.” Kata Condro.
“Apa, Yah?” Wildan penasaran.
“Kalau kamu sampai cerai dengan Sekar, maka kamu tidak akan dapat warisan dari ayah. Biarkan ayah pasrahkan sepenuhnya pada kakak dan adikmu.”

“Waduh! Kenapa masalahnya sampai ke warisan segala?” Wildan protes.
“Karena ini menyangkut Sekar. Putri dari sahabat ayah.” Jawab Condro tegas.
“Betul. Dulu mas Seno mengamanatkan agar kami ikut menjaga Putri tunggalnya.” Kata Sundari sambil menghela napas panjang.

Wildan pura-pura menguap.

“Maaf, Ayah, Ibu. Aku tidur dulu. Ngantuk.” Jawab Wildan sambil melangkah masuk kamar.
Condro dan Sundari saling pandang dan angkat bahu.

Sebenarnya Wildan tidak mengantuk. Itu hanya taktik untuk menghindari pembicaraan ayahnya yang mulai mengungkit-ungkit masalah warisan.

Ayahnya mengancam tidak akan memberinya warisan bila Wildan bercerai dengan Sekar.

Chapter 14 : Terjebak di Ketiak Casanova

Editor : Abu Khaeri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gempa 4,9 Magnitudo Guncang Tasikmalaya! Tempat Kamu Terasa?

Mengenal 7 Penutup Kepala Khas Indeonesia Indonesia

Mengenal 7 Penutup Kepala Khas Indonesia Indonesia