Cerita Bersambung
Cerita Bersambung

Chapter 14 : Terjebak di Ketiak Casanova

Setelah Nunung pulang, Sekar melanjutkan kegiatannya menyiram bunganya. Dia tersenyum-senyum sendiri. Teringat Galang.

Galang yang telah membelikan semua tanaman hias tersebut. Galang yang paham betul kesukaannya. Hobinya menanam bunga.

Sekar mengamati bunga-bunga itu. Ungu, kuning, merah, putih, orange.

Yang biru kok belum ada, ya? Biru langit. Tanya Sekar dalam hati.

Warna kesukaanya.

Biru langit.

Teringat warna biru langit, Sekar juga teringat gamis sarimbit yang dibelikan Galang waktu itu. Juga ucapan Galang, yang mengatakannya suatu saat nanti mereka akan memakai sarimbit itu.

Mengenakan sarimbit itu?

Dalam rangka apa?

Kapan?

Kenapa Galang begitu yakin dengan hal itu?

Begitu banyak tanda tanya yang berkecamuk di benak Sekar. Tanda-tanya yang hanya terjawab seiring berjalannya waktu.

Terdengar HP berbunyi. Tanda panggilan masuk. Sekar buru-buru masuk tokonya untuk menjawab telepon tersebut.

“Hallo! Oh, kamu. Ada apa?”

Pucuk di cinta ulam tiba. Yang sedang dipikirkan, sepertinya merasakan hal yang sama. Buktinya Galang menelepon, menanyakan keadaanya.

Mereka ngobrol di telepon lama. Sampai lama. Lama sekali. Sekar merasakan hpnya terasa panas. Hmm… tak apa. Yang penting hatinya bahagia. Telpon dan motivasi Galang-lah yang selama ini memberi semangat pada Sekar. Bahwa hidupnya masih panjang. Bahwa perlakuan Wildan bukan berarti kiamat. Masih ada yang lain untuk dipikirkan. Hal yang lebih penting. Masih ada harapan untuk mendapatkan kehidupan bahagia.

Sekar merasakan kebahagiannya bila ngobrol dengan Galang. Sehari tak ngobrol, hidupnya terasa hampa. Kadang timbul pertanyaan dalam hati. Salahkah yang dia lakukan? Salahkah yang dia rasakan terhadap Galang?

Salahkah kalau mencari kebahagiaan dan kenyamanan dengan lelaki yang bukan suaminya?

BACA juga :  Baca Novel Online : Hendrik & Lisa Bab 3

Entahlah…

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Pulang kerja Wildan tidak pulang ke rumah Sekar, tapi ke kontrakan Lilik.

Di matanya, Lilik terlihat sempurna. Cantik, berkulit putih bersih, manja, kenes dan seabrek keindahan-keindahan dari seorang perempuan yang membuat hatinya klepek-klepek.

Sampai di depan kontrakan Lilik. Pintu tertutup. Namun Wildan tetap mengarahkan motornya ke halaman kontrakan.

Kontrakan ini agak terpencil. Jauh dari rumah-rumah di sekitarnya. Pohon Akasia di depan rumah, membuat suasana tampak redup. Wildan sengaja mencari yang agak terpencil. Agar tidak terlalu menarik perhatian tetangga.

Baru saja Wildan memasuki halaman, pintu kontrakan terbuka. Ternyata Lilik ada di dalam rumah. Lilik menyambut kedatangan Wildan dengan senyum manjanya.

Entar malam nginep disini, kan mas?” Tanya Lilik manja.
“Tentu saja. Aku kan pingin selalu berdekatan denganmu.” Jawab Wildan sambil tersenyum manis.
Mereka beriringan masuk kontrakan.

Sampai dalam rumah. Wildan duduk di kursi ruang tamu. Lilik masuk ke dalam, membuat minuman. Sebentar kemudian Lilik muncul membawa minuman diikuti Dina, putri semata wayangnya.

Tuh! Salim sama ayah.” Perintah Lilik pada Dina.
Dina mematuhi perintah ibunya. Wildan membelai rambut Dina.
“Dari kemarin Dina nanyain kamu terus, Mas. Minta makan di luar. Pingin makan lamongan ya, Din?” Kata Lilik sambil meletakan minumman di atas meja.

Dina hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum senang.

Wildan diam sambil menahan napas di dada. Baru saja duduk, belum minum, sudah ditodong. Wildan mengeluh dalam hati. Terbersit di benak Wildan. Pernahkah Lilik memikirkan lelah yang dirasakan. Lelah setelah kerja seharian.

BACA juga :  Baca Novel Online : Hendrik & Lisa Bab 2

“Diminum, Mas. Mumpung masih hangat.” Kata Lilik sambil tersenyum manis.
Ma! Ayah mau, nggak?” Dina merajuk.
“Itu, Mas. Jawab pertanyaannya.” Kata Lilik sambil duduk di sebelah Wildan.
“Iya. Nanti malam, ya?” Jawab Wildan sambil minum.
“Asyik!” Dina teriak gembira.
“Makasih ya, Mas. Kamu menyayangi putriku juga.” Kata Lilik sambil tersenyum manis.
“Tentu! Putrimu sudah kuanggap sebagai putriku sendiri.” Jawab Wildan datar.
Dina gembira sambil lari ke ruang tengah.

Malam itu Wildan menepati janjinya pada Dina. Janji untuk makan di luar. Makan di lamongan.

Sambil menunggu pesanan datang, Wildan mengamati keadaan sekeliling. Banyak keluarga kecil yang makan di situ. Mereka datang dengan putra-putrinya. Kebanyakan anaknya dua. Ada juga yang datang dan pesan untuk dibawa pulang.

Terakhir pandangan Wildan tertuju pada Lilik. Lilik kelihatan cantik sekali.

Namun apakah dandannya tidak terlalu berlebihan?

Pakai gamis mewah dengan dandanan tebal. Seperti mau menghadiri resepsi saja. Wildan jadi membandingkan Lilik dengan Sekar.

Sekar yang sederhana tapi tetap cantik. Dandannya tidak pernah setebal Lilik. Justru wajahnya terlihat alami dan segar.

Sekar yang tidak pernah menuntut untuk selalu makan di luar.

Sekar yang tidak akan bermain HP bila ada disampingnya.

Beda dengan Lilik yang sibuk tal-tul hp. Padahal saat ini Lilik bersamanya. Duduk bersebelahan, bukannya ngobrol tapi malah sibuk tal-tul HP.

Kekecewaan terhadap Lilik mulai terbersit di hati Wildan.

Chapter 13 : Terjebak di Ketiak Casanova

Chapter 15 : Terjebak di Ketiak Casanova

Editor : Abu Khaeri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengenal Sosok Kazuki Ito, Wasit Tersadis Sepanjan WE!!

Mengenal Sosok Kazuki Ito, Wasit Tersadis Sepanjan WE!!

Justin Bieber - Yummy

Download Mp3 Justin Bieber – Yummy