Cerita Bersambung
Cerita Bersambung

Chapter 13 : Terjebak di Ketiak Casanova

Tentu saja tidak!

Rasa sakit hati Sekar selama ini telah mengikis habis rasa cintanya terhadap Wildan.

Hari ini Sekar tidak masak. Untuk sarapan, ia beli di warung sebelah. Tiga bungkus dan beberapa gorengan. Adit yang sudah selesai mandi disuruh untuk sarapan.

“Adit! ini sarapan dulu. Ini susunya. Kamu suka susu coklat, kan?” Kata Sekar sambil mendekatkan segelas susu coklat ke piring Adit.
“Iya, bu. Makasih.” Jawab Adit sambil tersenyum.
Wildan yang sudah mengenakan baju batik berjalan mendekati mereka. Tatapannya tertuju pada nasi bungkus yang cuma ada dua.
“Sarapan buat kamu, mana?” Tanya Wildan pada Sekar.
“Ini. Satu buatku. Satu buat ibu.”Jawab Sekar dengan santainya.
Sekar hanya tersenyum tipis sambil menatap Adit yang juga sedang menatapnya.
“Ayah, kok nggak dibelikan, Bu?” Tanya Adit bingung.
“Hari ini, ayah puasa. Iya kan, Mas?” Tanya Sekar dengan wajah datar.
“Oh! Ayah puasa? Bagus, Ayah.” Kata Adit sambil mengacungkan jempol.
Wildan tersenyum, garuk-garuk kepala.

Puasa? Justru kesini untuk sarapan, kok bisa-bisanya Sekar mengatakan dirinya puasa. Gerutu Wildan

“Sekar! Sini sebentar.” Wildan memberi isyarat pada Sekar untuk mengikutinya.
Mereka ke ruang depan.
“Bisa-bisanya kamu bilang ke Adit kalau aku puasa? Justru aku ke meja makan untuk sarapan!” Wildan terlihat marah.
“Bisa-bisanya kamu mau mengambil sarapan? Apa tadi kamu titip duit untuk beli sarapan?” Tanya Sekar dengan santainya.
“Kamu nggak bisa begitu, dong. Kalau suami mau berangkat kerja, kamu harus mempersiapkan segala sesuatunya.” Kata Wildan sambil menatap Sekar tajam.
“Kamu nggak bisa seperti itu, dong. Kalau kamu mau dilayani dengan baik kamu juga harus menjalani kewajibanmu.” Jawab Sekar santai.
“Aku nggak tahu, kemana arah bicaramu? Apa maksudmu?” Kata Wildan.
“Aku nggak tahu, Kenapa kamu bisa berlagak bego. Kenapa kamu pura-pura nggak tahu maksudnya.” Kata Sekar sambil melangkah pergi.
“Aku belum selesai bicara!” Wildan teriak.
“Kalau dilayani bicaramu nggak akan pernah selesai.”Jawab Sekar, mempercepat langkahnya.
Wildan hanya mampu geleng-geleng kepala sambil menghembuskan napas kencang.

BACA juga :  Baca Novel Online : I'm Not Virgin (Chapter 12)

Kok Sekar jadi berubah? Dia sangat cuek.” Wildan bersandar ke dinding.
“Ayah! Adit berangkat dulu.” Tiba-tiba Adit sudah berada di samping Wildan.
“Ya, Adit! Hati-hati di jalan, ya?” Kata Wildan, mengusap kepala Adit.
Adit mengangguk dan salim dengan Wildan.
“Sudah dikasih uang jajan, sama ibu?” Tanya Wildan.
“Sudah, dong! Ibu idaman.” Kata Adit tersenyum lebar.
Wildan cuma mampu tersenyum tipis sambil memperhatikan Adit yang melangkah keluar.

Wildan bermaksud ke kamar untuk mengambil tas kerja. Sampai di dekat meja makan, Wildan berhenti sesaat sambil memperhatikan Sekar dan Laras yang sedang sarapan.

Serentak, Sekar dan Laras menoleh ke arah Wildan. Namun mereka cuma cuek dan melanjutkan sarapannya. Wildan hanya geleng kepala sambil melangkah ke kamar.

“Kamu nggak belikan suamimu sarapan?” Tanya Laras, berbisik.
“Nggak, la yau,” Jawab Sekar menahan tawa.
Laras mengangguk-angguk sambil menahan tawa.
“Episode kali ini adalah… Pelajaran untuk Pak Guru.” Kata Sekar berbisik.
Laras mengangguk sambil mengacungkan jempol.

Wildan keluar kamar sambil menenteng tas kerja. Sekar dan Laras menoleh sebentar dan melanjutkan sarapannya.
“Aku berangkat dulu.” Kata Wildan sambil melangkah keluar.
“Silakan! Pintunya masih di tempat semula, kok.” Kata Sekar, tanpa beranjak dari tempat duduknya.

Laras tertawa geli.

Wildan melangkah ke motor yang diparkir di samping rumah.

Ia menoleh ke belakang.

Berharap Sekar akan mengantarkan sampai ke motornya. Ternyata harapannya sia-sia.

Sekar sekarang beda. Dia mengacuhkanku. Wildan sangat kecewa.

Wildan menyetarter motornya dan sekali lagi menoleh. Berharap Sekar akan keluar rumah dan berdiri di sampingnya, tersenyum manis. Namun untuk kedua kalinya, harapannya tidak terwujud.

BACA juga :  Baca Novel Online : Hendrik & Lisa Bab 3

Mending aku nggak usah pulang. Nanti tidur di kontrakan Lilik saja. Dia akan menyambutku dengan senyuman yang super manis. Wildan tersenyum, membayangkan senyum Lilik dan suaranya yang kenes.

Sekar menyiram tanaman hias di depan tokonya.
“Kuning, ungu, kembang yang sangat indah” Sekar bicara sendiri.
Nunung, tetangga depan rumah, mendekati, “Mbak Sekar, mau beli beras, ada?”
“Ada. Mau berapa kilo?” Tanya Sekar sambil melangkah ke tokonya.
“Lima kilo aja, Mbak. Wah! Bunganya bagus-bagus banget, Mbak. Dapat dari mana?” Tanya Nunung sambil mengamati bunga-bunga itu.
“Beli di penjual tanaman hias, Mbak Nunung.” Jawab Sekar dari dalam toko.
“Besok kalau udah berkembang biak, udah banyak, aku boleh minta, nggak?” Tanya Nunung penuh harap.
“Boleh. Sangat boleh.” Jawab Sekar lagi.
“Yang ungu, aku suka banget nih. Bagus banget. Mahal ya, mbak….?”
Sekar hanya tersenyum sambil menyodorkan plastik kresek berisi beras.

“Mbak Sekar, dua hari yang lalu, aku kok melihat Mas Wildan duduk berdua sama cewek, sih? Akrab banget.” Kata Nunung setengah berbisik.
“Dimana?” Tanya Sekar.
“Di sebuah rumah. Seperti rumah kontrakan deh. Ceweknya itu mbak, pakai daster seksi. You can see. Tanpa lengan gitu. Dasternya pendek. Cuma di atas lutut.” Kata Nunung sambil menerima berasnya.
“Alamatnya?” Tanya Sekar penasaran.
“Di desa Sidomulyo. Sebelah masjid ada gang masuk. Nanti ada gang kecil ke arah kanan, masuk lagi. Rumahnya pas disudut. Dekat pohon Akasia. Terpencil.” Kata Nunung sambil menyodorkan uang seratus ribuan.
“Makasih infonya ya, Mbak. Aku ambil kembaliannya dulu.” Kata Sekar, melangkah masuk ke tokonya lagi. Nunung mengikuti masuk toko.

Chapter 12 : Terjebak di Ketiak Casanova

Chapter 14 : Terjebak di Ketiak Casanova

Editor : Abu Khaeri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pelajar SD Tenggelam di Sungai

Bermain-main di Sungai, Siswa SD Tenggelam di Kali Pedes, Bumijawa, Tegal

Lucinta luna Transgender

Dari Lucinta Luna sampai Transgender, Ternyata Susah Loh!