Cerita Bersambung
Cerita Bersambung

Chapter 11 : Terjebak di Ketiak Casanova

“Kenapa, bu?” Tanya Wildan.
“Apa yang kamu katakan tadi? Kamu akan menikah siri?” Tanya Laras tegas.
“Itu… Kalau Sekar mengijinkan.” Kata Wildan pelan.
“Aku nggak  akan mengijinkan!” Kata Sekar tegas.
“Ya udah. Nggak jadi.” Kata Wildan, berjalan menuju kamar.
“Jangan masuk kamar dulu. Kita harus membicarakan hal ini secara dewasa.” Kata Laras tegas.
Wildan keluar kamar lagi.
“Selama ini Sekar diam atas segala perlakuanmu. Tapi ibu yang nggak bisa diam. Ibu nggak ikhlas anak ibu diperlakukan semena-mena olehmu.”

Wildan hanya diam sambil memandang Sekar dan ibunya bergantian.
“Iya, Bu.” Kata Wildan lesu, masuk kamar.
Sekar menghela napas panjang. Laras geleng-geleng kepala.
“Tadi, Ibu dengar. Dia akan menikah siri, ada atau nggak ada ijin darimu.” Kata Laras.
“Iya, Bu. Memang begitu. Tapi kalau ada ibu, lain lagi bicaranya.” Jawab Sekar lesu.
“Kalau ibu amati selama ini perkawinan kalian nggak sehat..” Kata Laras.
“Jadi maksud ibu?” Tanya Sekar.
“Mungkin sebaiknya kamu berpikir untuk menyelesaikan masalah ini. Kamu harus memutuskan.”
“Cerai, maksud ibu?” Tanya Sekar.
“Apa salahnya? Kalau memang sudah nggak ada kecocokan.”
“Ibu nggak malu kalau aku cerai?”
Nggak! Kenapa mesti malu? Kenapa pula harus mempertahankan perkawinan yang nggak sehat?” Kata Laras.
“Makasih, Bu. Aku sangat menghargai dukungan ibu.” Kata Sekar, memeluk Laras.
“Belum ada sejarahnya keluarga kita cerai muda.. Tapi kalau keadaannya begini, mau apa lagi?” Kata Laras pelan.
“Sebenarnya sudah lama aku mempertimbangkan hal ini. Tapi aku menjaga perasaan ibu.” Kata Sekar, “Selain itu, dia keberatan kalau cerai.”
“Keberatan tapi kelakuannya begitu, Egois!” Kata Laras ketus.

Mengetahui ibunya mendukung untuk cerai, Sekar lega. Paling tidak, secara moril ia merasa dapat dukungan.

Pagi ini, tidak seperti biasanya, Wildan tidak pamit dan cium tangan Laras saat berangkat mengajar. Laras juga nampaknya tak peduli.

Bagaimanapun juga, Laras tidak rela putri tunggalnya diperlakukan semena-mena oleh Wildan. Wildan, menantu kesayangan mendiang suaminya itu makin hari sifat buruknya makin kelihatan. Playboy dan pelit dengan istri sendiri.

Ingin rasanya Laras mengusir Wildan secepatnya. Tapi walau bagaimanapun ia masih menantunya.

Laras mendekati Sekar yang sedang mencuci piring didapur.
“Sekar, semalam habis bicara sama kamu, ibu telepon Agus. Menanyakan syarat-syarat kalau kamu mau mengajukan gugatan cerai.” Kata Laras sambil menarik tangan Sekar, diajaknya duduk.
“Ibu cerita ke mas Agus? Malu dong, Bu.”Kata Sekar.
“Kenapa mesti malu? Kenapa pula kamu menutupinya?”
“Terus kata mas Agus, bagaimana, Bu?” Tanya Sekar.
“Kata Agus, paling tidak kamu sudah pisah rumah selama tiga bulan.”
“Pisah rumah? Terus aku tidur dimana?” Sekar bingung.
“Ya, itu juga yang sedang Ibu pikirkan. Apa sebaiknya Wildan disuruh pulang saja?”
“Aku sudah pernah mengatakan hal itu. Tapi dia nggak mau pulang ke rumahnya. Dia juga nggak mau cerai.”
“Aneh! Nggak mau cerai tapi main perempuan lain. Ini malah mau nikah siri. Bener-bener lelaki nggak beres. Nggak punya tanggung jawab. Nggak punya malu.” Kata Laras geram.
“Itu kita pikirkan nanti, Bu. Sekarang aku mau mandi dulu dan membuka toko.” Kata Sekar sambil menata piring di raknya.
“Iya. Kita pikirkan bareng-bareng.” Kata Laras sambil menghela napas panjang.

Sekar yang sudah selesai mandi berjalan menuju tokonya. Siap membuka toko. Laras mengekor setiap langkah Sekar. Dia tidak sabar untuk melanjutkan percakapan tadi.
“Ada apa, Bu?” Tanya Sekar, heran pada Laras yang mengekor.
“Bukankah pembicaraan tadi belum selesai?” Jawab Laras.
“Tadi saat sedang mandi aku juga berpikir. Bagaimana caranya, ya?” Kata Sekar sambil berpikir keras.
“Bagaimana kalau kamu tidur di rumah tetangga?”Kata Laras.
“Nanti tetangga tahu masalahku, dong!” Sekar keberatan.
“Cepat atau lambat mereka pasti tahu.” Kata Laras.
“Malulah.” Kata Sekar.
“Nggak usah malu. Toh kalau kamu mau mengajukan gugatan cerai harus ada saksi dari tetangga juga.”
“Oke. Misalnya aku menginap di rumah tetangga. Sekitar berapa hari?” Tanya Sekar.
“Sekitar tiga bulan. Minimal satu bulan.”
“Lama sekali. Keburu geger.” Kata Sekar.
“Terus, bagaimana? Kamu mau membiarkan hal ini berlarut-larut?” Tanya Lartas.
Sekar hanya menghela napas panjang.
“Yang sabar! Setiap masalah pasti ada solusinya.” Kata Laras sambil menepuk-nepuk pundak Sekar.
Sekali lagi Sekar menghela napas panjang.
“Ibu ke belakang dulu. Nanti kita pikirkan lagi.”Kata Laras sambil menuju ke ruang tengah.
Sekar mengangguk sambil mengambil hp dari kantong celananya dan menyetel musik. Menyetel lagu ‘Hati Yang Kau Sakiti’ yang dinyanyikan Rosa. Sekar mulai menari dengan gerakan yang gemulai. Gerakan yang mengekpresikan keputusasaan, kecewa dan sakit hati. Memang Sekar sangat sakit hati atas perlakuan suaminya yang akan menikah siri, ada atau tidak ada ijinnya. Wildan benar-benar tidak memberi pilihan. Gerakan-gerakan dalam menarinya lebih sering meliukkan tubuh dan merentangkan kedua tangan agar sesak didada dapat ternetraliser.

BACA juga :  Baca Novel Online : Hendrik & Lisa Bab 2

Hari sudah siang. Matahari hampir berada tepat di atas kepala. Diperkirakan pukul sebelas siang. Sekar sedang melayani pembeli ketika HP di atas estalase berbunyi. Setelah pembeli pulang, Sekar segera menerima telpon. Ternyata telpon dari Wildan yang menyuruhnya untuk datang ke suatu alamat untuk menyaksikan pernikahan siri dengan Lilik.

Sekar menutup tokonya.

Laras yang datang ke toko heran. “Kenapa tokonya ditutup?”
“Aku mau pergi sebentar, Bu.” Kata Sekar terdengar sedih.
“Kemana? Kalau hanya sebentar, toko bisa ibu yang jaga.” Kata Laras.
“Tadi aku dapat telpon dari mas Wildan. Dia menyuruhkan datang ke pernikahannya.”
“Datang ke pernikahannya? Dia jadi menikah?” Laras kaget.
“Iya, Bu. Nikah siri.”
“Buat apa kamu datang? Kamu mau merestui mereka?”
“Justru sebaliknya bu. Aku ingin mengagalkan pernikahan mereka.” Jawab Sekar.
“Oh begitu? Ya sudah. Terserah kamu.” Kata Laras sedih.
Selesai menutup toko Sekar dandan ala kadarnya dan meluncur.

Setelah sampai di desa dan ancer-ancer rumah yang dimaksud, di mulut gang, Sekar malah berubah ragu-ragu. Antara melanjutkan perjalanannya atau pergi. Setelah dipikir berulang-ulang akhirnya memutuskan untuk mengurungkan niatnya.

Ia kemudian memacu motornya dengan kecepatan lumayan tinggi. Sekar memutuskan untuk pergi ke laut dari pada melihat suaminya menikah.

Sampai di laut keadaan sepi.

Tentu saja.

Karena saat itu bukan hari Minggu dan siang bolong. Panas menyengat. Matahari tepat di atas kepala. Sekar menuju ke bawah pepohonan. Menyandarkan motornya. Melepas kontak motor dan memasukan dalam tas kecil yang dibawanya lalu memotret laut dan mengirimkan ke Niken. Dibawahnya foto laut ditulis, ‘aku disini’.

Tak berapa lama hp berbunyi. Ada telpon dari Niken.
“Hallo, Niken. Aku disini. Sendiri.” Kata Sekar dengan suara hampir menangis.
Ngapain kamu di situ sendirian?” Tanya Niken terdengar kalut.
“Nggak apa-apa. Tadinya aku mau menyaksikan pernikahan mas Wildan. Tapi kupikir-pikir lebih baik aku kesini.” Kata Sekar sambil menahan tangis yang hampir pecah.
“Oke! Jangan pergi, ya. Aku kesitu. Tunggu aku!” Kata Niken yang masih terdengar khawatir.
“Oke. Kutunggu.” Kata Sekar sambil menutup hpnya.
Sekar menyalakan hp di bagian musik. Menyalakan lagu-lagu nostalgia. Mendengar lagu-lagu sambil memandang ke hamparan laut. Tanpa sadar air mata menitik kepipinya. Sekar buru-buru mengusapnya.

Rasanya sakit. Sangat sakit. Selama ini ia menginginkan perceraian, namun Wildan keberatan. Tapi kenapa Wildan malah menikahi perempuan lain. Menikah tanpa ijinnya. Sungguh keterlaluan. Sekar merasa nasibnya di‘gantung’. Posisinya sebagai istri tapi tidak dihargai sama sekali. Bahkan selama ini diperlakukan tidak selayaknya seorang istri.

Sekar masih berdiri setengah duduk di motornya. Menghadap laut. Dia tidak sadar kalau ada seseorang yang mendekatinya.

“Sekar, kamu di sini sendiri?” Tiba-tiba Galang telah berdiri disamping Sekar.
“Galang…” Sekar menyembunyikan wajahnya di dada Galang dan terisak.

Galang menghela napas panjang sambil membelai kepala Sekar. Membiarkannya menyelesaikan tangisnya. Setelah sekian lama menangis, akhirnya Sekar mengangkat wajahnya sambil menghapus air matanya. Sesak di dada terasa berkurang.

“Kenapa?” Tanya Galang lembut, sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipi Sekar.

Sekar hanya diam sambil menunduk.Galang paham. Sekar belum siap untuk menceritakan masalahnya. Dan Galang tidak akan memaksa.

“Niken, mana?” Tanya Sekar.
“Niken? Aku datang sendiri, kok.” Kata Galang.
“Tadi yang menelponku dan katanya mau datang, Niken.”
“Tadi Niken juga menelponku. Memberitahu kamu disini sendirian. Jadi aku langsung ke sini. Takut terjadi apa-apa padamu.”
“Terjadi? Apa-apa, apa?” Tanya Sekar.
“Aku khawatir kamu nekat, njebur ke laut.” Kata Galang sambil menngusap kepala Sekar lagi.
Sekar tersenyum sambil menghela napas panjang.
“Aku tak akan senekat itu.” Kata Sekar cemberut.
“Syukurlah!” Kata Galang sambil tersenyum.
“Sekarang, bolehkah aku bertanya lagi?” Tanya Galang sambil menelusuri wajah Sekar dengan tatapannya yang teduh.
“Bo… leh. Silahkan.” Sekar agak malu.
“Ada apa denganmu? Apa yang terjadi?” Tanya Galang.
“Tadi, Mas Wildan menelponku. Menyuruhku untuk datang, tapi aku nggak jadi datang.” Sekar tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

BACA juga :  Baca Novel Online : Hendrik & Lisa Bab 3

Dia terisak lagi.

“Sudahlah… Kalau kamu belum siap. Tidak usah diteruskan.” Kata Galang sambil menarik kepala Sekar ke dadanya.

Sebenarnya Galang sangat penasaran akan kelanjutan kata-kata Sekar. Namun tidak akan memaksanya. Kesimpulannya, keadaan itu membuat Sekar sakit hati. Setelah sekian lama menangis akhirnya Sekar mampu mengendalikan diri. Dia menengadahkan wajah menatap Galang. Mereka saling tatap, begitu dekat. Galang tersenyum sambil menepuk kedua pipi Sekar. Hal itu dilakukan untuk meredam getar-getar hebat dihatinya.

“Tadi Mas Wildan menikah.”Kata Sekar terdengar sangat lirih.
“Menikah?” Tanya Galang kaget.
“Iya. Menikah siri. Ada atau nggak ada ijinku, dia tetap menikah. Cuma kalau aku mengijinkan, dia akan menikah di KUA.”

Galang geleng-geleng kepala, “Keterlaluan!”

“Aku nggak apa-apa dia menikah lagi. Selama ini aku juga ingin cerai. Tapi dia nggak mau menceraikanku.” Sekar menunduk dalam-dalam.
“Insyaa Allah akan ada jalan. Yang sabar, ya!” Kata Galang sambil menarik kepala Sekar kedadanya lagi. Sekar mengangguk.

Setelah Sekar terlihat tenang, Galang mengajaknya jalan-jalan menelusuri tepian pantai sambil ngobrol yang lucu-lucu. Mereka benar-benar terlihat sangat akrab. Tingkahnya seperti sepasang sejoli yang sedang jatuh cinta. Sekar membiarkan tangan Galang yang melingkar di pinggangnya. Bahkan kadang-kadang merebahkan kepala di bahu Galang. Dan Galang akan mengecup kepalanya dengan lembut.

Apakah memang mereka saling cinta?

Cinta yang terlarang.

Entahlah…

Yang jelas kedua insan itu sama-sama bahagia dan berbunga-bunga. Mereka seakan lupa akan status masing-masing. Yang dirasa hanya merasa nyaman dan bahagia. Sangat bahagia menikmati kebersamaan saat itu.

Hanya itu……

Sekar sudah sampai rumah kembali. Namun wajah dan senyum Galang masih terbayang-bayang. Sekar senyum-senyum bahagia. Melupakan rasa sakit hatinya. Sampai rumah Sekar langsung menemui Laras. Menceritakan kalau tidak jadi menghadiri pernikah Wildan tapi malah jalan-jalan ke laut bersama Niken. Sekar tak mungkin bicara jujur. Nanti bagaimana pendapat ibunya. Laras sangat mendukung keputusan Sekar. Biarkan saja Wildan mau menikah. Untuk apa Sekar menghadirinya?

Tidak penting!

Wildan baru pulang. Dia langsung menemui Sekar di toko.
“Kenapa kamu nggak datang ke pernikahanku?” Wildan marah.
“Buat apa?” Tanya Sekar emosi.
Laras muncul dari ruang tengah. “Betul Sekar! Buat apa dia hadir.”
“Lilik ingin kamu datang. Sebagai bukti kalau kamu merestui hubungan kami.” Kata Wildan.
“Tapi aku nggak merestui, kok.” Jawab Sekar.
“Kamu egois sekali Wildan. Mulai sekarang kamu harus angkat kaki dari rumah ini!” Kata Laras tegas.
“Betul. Silahkan kamu tinggal dengan istri mudamu.”Kata Sekar.
“Nggak… Nggak begitu. Aku akan bersikap adil. Tiga hari bersama Lilik. Empat hari bersamamu.” Kata Wildan.
“Aku nggak ingin bersamamu. Bener kata ibu. Kamu harus angkat kaki dari rumah ini.” Kata Sekar tegas.
“Kamu nggak bisa seenak sendiri. Bagaimanapun statusku masih suamimu.” Wildan protes.
“Hanya status. Tapi jiwa dan pikiranmu bukan suamiku lagi. Perbuatanmu sudah di luar batas. Kamu sama sekali nggak menghargaiku lagi.” Kata Sekar.
“Kenapa kamu bilang seperti ini setelah semuanya terjadi?” Wildan kaget.
“Apa maksudmu?” Sekar tak mengerti.
“Kalau aku harus pergi dari rumah ini, lebih baik aku nggak jadi menikah siri.” Kata Wildan.
“Bukankah semalam kamu bilang? Ada tau nggak ada ijin dariku kamu akan tetap menikah?”
“Memang, sih, tapi aku tak menduga. Kalau ternyata aku diusir dari rumah ini… Kupikir… Kamu sangat mencintaiku. Kamu akan mempertahankanku.” Kata Wildan memelas.
“Mimpi!” Kata Sekar sambil sedakep.
“Terlalu PD!” Kata Laras sambil mencibir.
“Oke. Aku yang akan mengemas pakaianmu.” Kata Sekar berjalan ke kamar dan mengemas beberapa pakaian Wildan. Wildan hanya tertegun.
“Kalau boleh jujur. Kukatakan. Kalau sebenarnya… Kamu di sini hanya benalu.” Kata Sekar sambil mendorong tas besar yang berisi beberapa pakaian Wildan.

Sekar, Wildan dan Laras berkutat dengan emosinya masing-masing, hingga tidak sadar ada sosok kecil yang sudah berdiri di situ semenitan yang lalu.

Adit, anak mereka tertegun menyaksikan semua adegan di depannya.

Chapter 10 : Terjebak di Ketiak Casanova

Chapter 12 : Terjebak di Ketiak Casanova

Editor : Abu Khaeri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Usai Posting Foto Candi Borobudur, Kemenparekraf Dihujat Netijen! Kenapa?

Perlahan GuyonWaton

Download MP3 Perlahan GuyonWaton