Sastra Novel
Sastra Novel

A Novel : Demi Waktu (Bag 2)

Salah satu misteri dalam hidup ini adalah orang-orang yang kita temui. Kadang aku berpikir kenapa harus bertemu Adnan yang tak cuma nyebelin tapi ngomongnya juga ngga jelas karena terlalu cepat berujar, atau Ratih yang sok cantik dan sok intelek.

Semesta ini bukan hanya tentang gunung-gunung atau samudra, namun juga tentang orang-orang dengan jiwa yang bersemayam di setiap tubuh fisiknya. Kadang-kadang dalam renungan di pagi buta aku memikirkan semuanya. Melihat bintang di langit dan bertanya apakah memang disana ada jin atau malaikat.

Oh!

Dan Helva menarik hatiku. Pandangan pertama yang tertuju di mulutnya yang mungil kemudian menyusuri pesonanya, tatapan matanya menggoda tapi menyelipkan kesedihan. Sikap pasrah yang tergambar di setiap kedipan matanya yang selalu diakhiri dengan menunduk.

Setelah aku tahu namanya, keeseokan harinya ia tidak masuk kuliah. Akhirnya, hanya guratan-guratan dinding kelas berwarna kuning pudar yang mulai mengelupas melingkupi pandanganku. Pertanyaan-pertanyaan mulai timbul dan akhirnya menyalahkan diri sendiri. Aku terlalu berani bertanya mungkin.

Dengan kalimat kutukan lirih aku meninju dinding.

Aku mungkin terlalu lancang bertanya-tanya tentang suaminya, sampai Ratih menyenggol kakiku. Dia tahu banyak tentang Helva.

Jauh dan sepi…

Kami menyusuri pematang sawah di desa Wana Asri, kecamatan Batur Kendil. Usai menitipkan sepeda motor di salah satu rumah warga, kami berdua berjalan kaki menuju Curug Kembar. Daun-daun padi yang menghijau melambai-lambai dibelai oleh angin sore.

BACA juga :  Baca Novel Online : I'm Not Virgin (Chapter 12)

Dingin!

Helva berjalan di depanku. Sesekali menoleh dan tersenyum. Sepanjang perjalanan tadi, ia terdiam. Masih canggung. Aku juga. Mungkin kami sama-sama tidak mengerti apa yang dimaui oleh hati kami berdua. Tetiba saja kami pergi bersama, ke curug yang tidak pernah kami datangi sebelumnya. Di sebuah desa yang tak pernah kami kunjungi.

Aku menatap Helva yang berjalan sambil menenteng sepatunya. Jalan setapak di tengah-tengah sawah itu mulai licin dan berlumpur.

“Ayo cepat! Sebentar lagi gelap!” teriaknya.

Aku tersadar dan berjalan lebih cepat. Mengejar wanita itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Download MP3 & Lirik Lagu Make It Right BTS feat Lauv

Tsamara Menikah

Tsamara Amany Menikah, Ini Sosok Suaminya